Connect with us

Edu Bisnis

Bukalapak Gandeng Google Masukkan Warung Ke Maps

credit: infokomputer/bukalapak/via-twitter

JAKARTA – Bukalapak mengumumkan kerja sama dengan Google Bisnisku untuk memasukkan warung yang menjadi mitra mereka ke aplikasi Google Maps.

“Kami bekerja sama dengan Google untuk meluncurkan Mitra Bukalapak di Google Bisnisku,” kata Presiden Bukalapak Fajrin Rasyid, saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (8/10).

Mitra Bukalapak merupakan program dari perusahaan rintisan unicorn tersebut untuk warung atau toko kelontong agar ikut terjangkau teknologi dalam berbisnis.

Mitra Bukalapak diluncurkan pada 2017 dan saat ini sudah 2,5 juta warung di seluruh Indonesia yang bergabung dalam program tersebut.

Sementara Google Bisnisku, atau My Business, merupakan tempat untuk mendaftarkan bisnis misalnya restoran atau kedai kopi, agar tampil di platform Google.

Pada tahap awal kerja sama Bukalapak dengan Google Bisnisku, sudah ada 100.000 warung yang tergabung dalam Mitra Bukalapak yang terdaftar di Google Bisnisku.

Setelah terdaftar, warung Mitra Bukalapak akan muncul di laman pencarian Google atau Google Maps.

Buhari, seorang pemilik warung yang mengikuti program Mitra Bukalapak sejak dua tahun belakangan, berpendapat kerja sama itu akan meningkatkan daya saing usahanya karena warungnya masuk ke laman pencarian Google, seperti toko-toko besar lainnya.

“Kalau di Google, biasanya yang muncul penjual besar seperti minimarket. Dengan Bukalapak memberi kemudahan untuk daftar ke Google Bisnisku, warung menjadi punya daya saing dengan minimarket,” kata Buhari. [rizky]

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edu Bisnis

JANZ Hadirkan Teknologi POS Canggih untuk Pertumbuhan Sektor Bisnis Indonesia

Published

on

credit: Ben Marvin (Country Manager Zebra) dan Yansen Setiawan (President Director PT Harrisma & Founder JANZ)/dok

Trend dan perangkat teknologi seluler yang baru muncul mengubah ekspektasi pelanggan di industri retail. Untuk tetap kompetitif, bisnis retail skala kecil, menengah atau besar perlu mengadopsi perangkat berteknologi POS yang menjawab perubahan kebutuhan ini.

Apalagi dihadapkan pada berbagai tantangan yang menekan margin, industri retail dituntut harus semakin memaksimalkan efisiensi dalam proses bisnisnya, sembari memunculkan upaya-upaya untuk mendukung transformasi digital.

Memahami hal tersebut PT. Harrisma Informatika Jaya, pemasok dan distributor produk-produk teknologi informatika (IT) terbesar di Indonesia meluncurkan JANZ, sebuah brand lokal baru penyedia rangkaian produk pendukung teknologi POS (Point of Sale) canggih di pasar Indonesia.

Terkait dengan peluncurannya, JANZ menggandeng Zebra yang merupakan global market leader di pasar AIDC (Automatic Identification and Data Capture).

Ditemui di acara peluncuran JANZ brand, Yansen Setiawan, Founder JANZ yang juga Presiden Direktur PT. Harrisma Informatika Jaya mengakui terjadinya peningkatan kebutuhan pemindaian dan pengelolaan data di era digital dan memasuki era big data sekarang ini.

“Kehadiran JANZ di pasar Indonesia membuktikan kesiapan kami membuka potensi dan peluang baru dalam pencatatan dan manajemen data menggunakan sistem POS yang terintegrasi dengan teknologi canggih. JANZ akan mendukung pelanggan kami dengan menghadirkan rangkaian produk yang mengedepankan kemudahan, solusi dan layanan baru. Produk-produk ini kami lahirkan untuk mendukung strategi digitalisasi, meningkatkan kualitas dan keuntungan konsumen di industri retail,” papar Yansen Setiawan.

Tantangan mutakhir di industri retail menuntut industri ini melakukan efisiensi semaksimal mungkin. Perolehan margin di industri ini semakin tergerus berbagai faktor, sementara di sisi lain ekspektasi konsumen digital menuntut pelayanan yang lebih personal, semua harus ditanggung oleh selisih keuntungan yang selama ini menggerakan roda industri ini. Tidak ada jalan lain, otomatisasi menjadi solusi untuk menyelesaikan kebutuhan akan efisiensi ini. Di titik inilah, teknologi POS memberi solusi jitunya.

Setiap kegiatan jual beli, saat ini membutuhkan sebuah ‘point of sale’ atau sering disingkat ‘POS’. Pada esensinya, POS adalah pengaturan yang ditempatkan untuk memproses pembayaran langsung dari konsumen atau pelanggan. POS bukanlah mesin atau proses yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian perangkat yang jika dihubungkan akan membantu Anda memproses transaksi dengan konsumen secara efisien dan menyederhanakan proses bisnis yang terhubung dengan penjualan Anda.

“Sistem POS yang memadai adalah bagian esensial dalam mengelola usaha jual beli di masa kini. Sistem POS yang terintegrasi dengan teknologi tak hanya membantu Anda mengelola penjualan dan inventarisasi, namun juga dapat membantu Anda lebih memahami konsumen, bahkan staf dan bisnis Anda, memungkinkan Anda mengelola keuntungan lebih baik dan bekerja lebih cerdas,” jelas Yansen Setiawan.

Dengan teknologi POS yang memadai, otomatisasi di industri retail memiliki kemampuan untuk membentuk ulang bisnis model, memperluas rantai manfaat dengan kemampuannya memberikan manajemen pasokan yang lebih baik, kecepatan pengolahan dan analisis data, sembari memberikan layanan yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan konsumen.

Sistem pencatatan dan pengelolaan aset dan persediaan yang baik akan membangun landasan bagi kendali inventaris yang sukses, manajemen pemeliharaan, pemanfaatan sumber daya dan serangkaian keuntungan lainnya yang merampingkan proses dan berkontribusi terhadap pendapatan akhir yang sehat.

Teknologi POS yang umumnya dibutuhkan oleh industri retail saat ini seperti peranti penangkap data cepat dan tepat seperti handheld imager dan periferalnya seperti thermal receipt printer, cash drawer dan barcode scanner. Penggunaan produk-produk dan sistem POS canggih di industri retail, bahkan lebih luas lagi bisa dimanfaatkan di industri kesehatan, manufaktur, pergudangan, hingga hospitality.

Mengusung visi untuk menjadi produsen teknologi POS terbaik di Indonesia, JANZ hadir dengan membawa 4 prinsip yang akan memberikan manfaat bagi industri retail di Indonesia, di antaranya: Powerful, produk JANZ didesain secara khusus untuk tetap dalam performa yang maksimal meski digunakan dalam “harsh environment” baik berupa suhu yang ekstrim dingin atau panas, juga tahap terhadap sinar radiasi, sinar radioaktif, dan tekanan mekanis yang berlebih.

One Stop Solution, JANZ memiliki lini produk yang lengkap untuk POS dan periferal, mulai dari all-in-one mesin kasir, thermal receipt printer, mobile printer cash drawer hingga barcode scanner yang memiliki teknologi terkini di kelasnya.

Reliable, JANZ menjanjikan ketenangan pikiran konsumen dengan tersebarnya jaringan service point yang tersebar di seluruh Indonesia.

Value for money, sebagai principal, JANZ mendengarkan dan menganalisis pasar secara mendalam sehingga harga yang ditetapkan dapat diterima dengan baik oleh pasar di Indonesia, serta kemudahan memperoleh suku cadang produk JANZ dengan harga terbaik.

Dalam peluncurannya, JANZ menggandeng Zebra, perusahaan IT yang bermarkas di Lincolnshire, Illinois, Amerika Serikat. Hingga saat ini, Zebra adalah global market leader untuk teknologi Automatic Identification and Data Capture (AIDC).

Kolaborasi antara JANZ dengan Zebra terlaksana untuk semakin mempermudah industri retail dalam memenuhi kebutuhannya.

Dengan sejarah panjang Zebra, tentunya akan mengangkat reputasi JANZ ke level global dengan keahlian berstandar internasional.

Selain itu keduanya berkomitmen untuk memperkaya opsi otomatisasi yang tersedia pada industri retail. JANZ menjamin keunggulan produknya, Zebra menjamin kualitas peralatan yang digunakan.

Pada kesempatan yang sama, Selvie Wijaya, Sales Director PT Harrisma Informatika Jaya, mengatakan, kolaborasi JANZ dan Zebra merupakan bagian dari visi perusahaan untuk menjadi perusahaan penyedia sistem POS kelas dunia.

“Kehadiran mesin-mesin POS melalui kerja sama dengan Zebra merupakan bagian dari program perusahaan untuk terus memperkuat positioning JANZ di kancah bisnis nasional. Kami juga ingin menanamkan di benak pelanggan, bahwa JANZ adalah brand yang senantiasa berkomitmen menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi. Pastinya kami patut berbangga karena bisa berkolaborasi dengan Zebra yang sudah teruji menjadi global market leader,” papar Selvie Wijaya.

Sementara itu, Country Manager Zebra Indonesia Ben Marvin Tan mengaku senang bisa membangun hubungan yang berfokus pada peningkatan keahlian dan potensi untuk mengembangkan industri retail di Indonesia.

“Zebra menyadari pentingnya sinergi dalam mengembangkan potensi yang dimiliki Industri retail di Indonesia. Oleh karena itu, kami percaya bahwa JANZ, di bawah naungan nama besar Harrisma yang telah lebih dari 3 dekade mengembangkan bisnisnya di Indonesia, untuk bersama-sama mendukung industri retail dan menghadapi tantangan yang ada,” jelas Ben Marvin Tan.

Salah satu produk yang menandai terjadinya kolaborasi JANZ dan Zebra adalah handheld imager JANZ by Zebra DS10 yang hadir dengan alat manajemen dan konfigurasi yang sangat mudah digunakan, sehingga pengguna pertama kali pun bisa mudah mengatur pemindai.

Selain itu terdapat pula Software Development Kit (Alat Pengembangan Perangkat Lunak) yang menyediakan semua yang Anda butuhkan, termasuk dokumentasi, uji utilitas dan kode sumber sampel untuk Windows, Android, iOS dan Linux.

JANZ by Zebra DS10 menawarkan kinerja pemindaian barcode praktis sehingga pekerja dapat dengan mudah menangkap barcode 1D dan 2D.

Selain itu JANZ by Zebra DS10 memiliki fitur omnidirectional scanning yang memungkinkan Anda untuk melakukan pemindaian barcode dari berbagai arah.

“Jika Anda membuka usaha kecil atau melacak gudang besar, salah satu fitur terpenting adalah pemindai barcode. Pemindai barcode memudahkan untuk mengkategorikan dan menarik harga ketika pembeli sedang check-out, memastikan aliran transaksi dan cash flow yang teratur dan stabil, serta tidak terganggu. Pemindai barcode juga digunakan untuk melacak semua inventaris Anda melalui quick scan dan dapat mengirim dan menyimpan data dalam dokumen file di komputer Anda. Bisnis Anda menjadi sangat efisien dan dijamin margin pun akan terhimpun dengan rapi dan pastinya menghadirkan senyuman di bisnis Anda,” jelas Yansen Setiawan.

penulis: widya yosevina

Continue Reading

Edu Bisnis

RuangGuru Dapat Suntikan Dana Segar

Published

on

ilustrasi

EDUPUBLIK – Platform belajar daring Ruangguru mengumumkan mendapat pendanaan Seri C sebesar 150 juta dolar Amerika Serikat yang dipimpin General Atlantic dan CGV Capital.

“Kami sangat antusias menyambut kemitraan dengan General Atlantic dan GGV Capital ini. Kami yakin dua perusahaan ini telah memahami visi kami, yakni membangun perusahaan pendidikan yang berdampak sosial tinggi dan juga berkelanjutan. Kami berharap kemitraan ini dapat membantu kami untuk mencapai misi kami,” kata Direktur Utama Ruangguru, Belva Devara, dalam keterangan resmi, Kamis (26/12).

Pendanaan Seri C ini akan digunakan untuk mengembangkan produk layanan Ruangguru di Indonesia dan Vietnam, yang baru beberapa bulan ini beroperasi di negara tersebut.

General Atlantic membuka kantor cabang di Indonesia sejak Desember 2018, pendanaan ini merupakan yang kedua bagi perusahaan investasi tersebut setelah PT MAP Boga Adiperkasa.

Lebih lanjut, sebagai bagian dari investasi, Managing Director dan Pimpinan General Atlantic Indonesia, Ashish Saboo akan bergabung ke jajaran komisaris Ruangguru.

“Kami berkomitmen untuk mendukung perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, termasuk dalam membantu pemerintah, guru-guru, dan orangtua dalam mengoptimalkan kegiatan belajar yang holistik dan membantu pelajar di Indonesia untuk menjadi lebih kompetitif secara global. Kami yakin bahwa pengalaman panjang kami bersama berbagai perusahaan teknologi pendidikan lainnya di dunia dapat membantu Ruangguru bertumbuh pesat,” kata Saboo.

Ruangguru terkenal menyediakan layanan belajar virtual untuk pelajar SD, SMP dan SMA, bernama Ruangbelajar. Selain itu, mereka juga memberikan materi pelatihan profesi dan keterampilan serta platform sistem manajemen belajar untuk perusahaan.

Perusahaan rintisan Ruangguru berdiri sejak 2014, pertengahan 2019 platform ini memiliki 15 juta pendaftar. 80 persen pengguna platform berada di luar Jakarta. [rzy/ant]

Continue Reading

Edu Bisnis

Jayakarta Hotels & Resort: Inovasikan Usaha Dengan Konsep Keseimbangan

Published

on

credit: Made Pudjayanti, Group Director of Marketing & Communication Jayakarta Hotels & Resorts Indonesia/dok. pribadi

EDUPUBLIK, JAKARTA – Bisnis perhotelan di Indonesia kini semakin menggeliat seiring dengan upaya pemerintah menggenjot sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di berbagai daerah. Banyak ide dan peluang bisnis baru yang bisa diambil atau dikembangkan, termasuk meniru ide bisnis yang telah dijalankan oleh perusahaan lain.

Selain itu diperlukan inovasi baru dari usaha di sektor pariwisata dari para karyawan untuk mengembangkan bisnis perusahaannya.

“Seluruh stakeholder karyawan dituntut  untuk mengubah paradigma dalam menatap isu di sektor pariwisata dan perhotelan. Dulu kita masih mengalami lawan yang jelas, supply demand-nya tunggal, pola kerja dan bisnis yang masih linier. Sedangkan di dunia baru di era leisure economy tempat kita beraktivitas saat ini, justru lawan-lawan kita tidak terlihat,” ujar Made Pudjayanti, Group Director of Marketing & Communication Jayakarta Hotels & Resorts Indonesia di Jakarta, Sabtu (21/12)

Lebih lanjut, Made Pudjayanti yang kerap dipanggil Yanti ini, mengatakan, paradigma karyawan tidak boleh lagi terpaku pada status kerja tetap, tetapi paradigma yang ditanamkan karyawan saat ini dan di masa depan adalah kemampuan untuk tetap bisa bekerja.

“Nah, kedepan menurut saya paradigma kerja tetap yang seperti itu sudah semakin berat karena pangsa pasarnya sudah semakin fleksibel. Sehingga kita harus switch paradigmanya dari kerja tetap jadi tetap kerja,” ujarnya.

Yanti menambahkan, bisnis hospitality yang mengedepankan pelayanan dan keramahtamahan kini menjadi arus utama. Strategi bisnis hotel yang diperlukan di era leisure adalah memasukkan elemen pengalaman, menciptakan momen ‘wow experience’ dan menciptakan kegembiraan dan makna bagi tamu yang datang.

“Selain itu, juga harus mampu menciptakan diferensiasi dengan produk dan layanan yang memiliki unsur orisinalitas dan otentisitas. Berikan panggung pada konsumen, dan ciptakan cerita yang otentik,” imbuhnya.

Yanti menjelaskan, untuk merealisasikan strategi tersebut, harus ada korelasi dengan sisi pemasaran. Sebab, konsumen baru semakin berdaya dengan tren digital seperti sekarang.

Pasalnya, kata Dia, semakin cepat hotel bergerak, semakin mudah untuk mengubah tantangan bisnis menjadi kesempatan berbisnis yang baru. Pelaku industri hotel harus dapat beradaptasi dengan pesaing baru yang memanfaatkan teknologi dalam melayani pelanggan.

“Teknologi membuat pengalaman pelanggan menjadi faktor penting dalam menciptakan reputasi sebuah hotel karena pelanggan dapat memberikan umpan balik secara online. Selain itu, saat ini cukup banyak platform yang menjadi fasilitator dalam pemasaran yang dapat merangkul seluruh kalangan,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, saat ini banyak hotel yang menawarkan fasilitas-fasilitas utama atau tambahan untuk memuaskan para pengunjung. Tak hanya itu, beberapa inovasi yang ada disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung agar betah.

“Kami juga menyediakan handuk yang bervariasi fungsinya. Tisu khusus di toilet. Shower yang sengaja dibuat dengan gagang pancuran. Lampu saklar di pasang di samping atau di atas kasur. Semua bagian dibersihkan termasuk kolong kasur dan perabotan lainnya,” ungkapnya

Jayakarta Hotels & Resort sendiri memiliki cabang di Jawa, Jakarta, Bali, Lombok dan Flores yakni The Jayakarta Villas, Anyer;  The Jayakarta Suites, Bandung; The Jayakarta, Bali; The Jayakarta Residences, Bali; The Jayakarta Inn & Villas, Cisarua; The Jayakarta SP, Jakarta, The Jayakarta, Yogyakarta; dan The Jayakarta Suites, Komodo-Flores. Hingga akhir November 2019 ini jumlah karyawan seluruhnya 1.200 orang.

“Ada juga 1 unit hotel budget kami, J Hotel di Kuta. Konsep hotel ini adalah luxuriously minimalis. Lokasinya dekat sekali dengan airport sehingga bisa jadi pilihan untuk tamu santai di Bali dan tidak terburu-buru saat akan terbang kembali pulang dari liburan di Bali,” tambah Yanti.

Lebih lanjut, Wanita yang sudah mengabdi di Jayakarta Group selama 15 tahun ini merasa bangga karena salah satu Hotel Jayakarta di Bali bahkan pernah beberapa kali mendapat penghargaan Tri Hita Karana Awards sebagai pengakuan dalam komitmennya terhadap konsep kehidupan masyarakat Bali.

Tri Hita Karana adalah konsep kehidupan masyarakat Bali dalam mewujudkan kebahagiaan sekuler dan spiritual melalui harmonisasi hubungan antara manusia dan Tuhan (Parahyangan), manusia dan manusia (Pawongan) dan manusia dengan lingkungan (Palemahan).

Konsep ini berasal dari ajaran agama Hindu, namun prinsip dari Tri Hita Karana itu sendiri adalah bersifat universal. “Hospitality adalah tentang mencapai harmoni, dan dengan mengikuti Tri Hita Karana, memungkinkan kita untuk melestarikan budaya Hindu Bali lokal melalui pariwisata,’ kata Yanti.

Jayakarta Group juga menjadi pioner dalam asuransi bencana. Bencana alam akan menimbulkan kerugian materi yang tidak sedikit. Asuransi diklaim bisa mengurangi beban kerugian tapi seringkali harus menunggu sudah kejadian.

Jayakarta Hotels & Resorts sendiri telah lama mengasuransikan semua segmen usahanya dan merupakan hotel pertama yang mendaftar sebagai peserta asuransi khusus untuk bencana.

“Jauh-jauh hari kami sudah mengasuransikan aset kami. Saat gempa melanda Yogyakarta tahun 2006 lalu, hotel kami sebagian mengalami kerusakan. Itu tidak mengganggu keuangan hotel, karena kami mendapat klaim asuransi,” katanya.

Jayakarta Hotels and Resort juga senantiasa menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu komitmen untuk peduli dengan kondisi sosial ekonomi sekitarnya.

CSR merupakan kewajiban perusahaan yang diatur dalam undang-undang dan mengandung sanksi didalamnya. Perusahaan memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepentingannya, oleh karena itu, CSR berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan.

Perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan dampaknya dalam aspek ekonomi, tetapi juga harus menimbang dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari keputusannya itu.

“Tapi bagi kami semua di Jayakarta Group, bukan hanya karena faktor CSR. Kami mengutamakan keseimbangan antara kerja dan amal untuk sesama. Kami sadar tanpa campur tangan Tuhan usaha kita tidak akan pernah berhasil,” kata Alumni Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali ini.

Oleh karena itu, Yanti sebagai bagian dari Jayakarta merasa bahagia karena komitmen spiritual manajemen Jayakarta menjadi motor untuk memajukan usaha sehari-hari.

“Kami optimis akan bisa terus maju dan bertahan di dunia pariwisata yang sedang berkembang. Dan komitmen kami untuk ikut membangun sektor pariwisata di Indonesia,” pungkasnya. [azr]

Continue Reading

Terpopuler