Connect with us

Edu Bisnis

Gran Meliá Jakarta Meraih Penghargaan sebagai The Best City Hotel pada TTG Travel Awards 2016

Edupublik, Jakarta – Gran Meliá Jakarta untuk ketiga kalinya mendapatkan penghargaan The Best City Hotel-Jakarta pada TTG Travel Awards 2016 yang berlangsung di Bangkok, 28 september 2016 lalu.

Beberapa tokoh paling terkenal dalam industri perjalanan dan pariwisata hadir. Selain itu, media internasional lainnya juga ikut meliput dan mempublikasikan acara ini. 82 organisasi dan individu yang luar biasa membawa pulang trofi Hermes berlapis emas 24 karat, yang melambangkan sebagai yang terbaik dan paling bersinar di industri perjalanan dan pariwisata di wilayah Asia Pasifik – termasuk Gran Meliá Jakarta yang memenangkan Best City Hotel-Jakarta.

“Ini adalah ketiga kalinya Gran Meliá Jakarta memenangkan penghargaan sebagai Best City Hotel dari TTG Travel Awards dan ini menjadi suatu kehormatan bagi kami. Tahun ini adalah tahun ke-20 Gran Meliá Jakarta berdiri dan kami berhasil memberikan pelayanan yang sangat baik untuk tamu-tamu kami; dan penghargaan ini menjadi motivasi kami untuk melakukan upaya yang lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan para tamu kami,” ujar Ruth Abellan, General Manager Gran Meliá Jakarta. Dalam keterangan pers hari ini, (13/10).

The Best City Hotel-Jakarta yang dimenangkan oleh Gran Meliá Jakarta tahun ini terpisah dari kategori Travel Supplier Awards, di mana pemenang ditentukan melalui voting oleh pembaca media cetak dan online milik TTG Travel Trade Publishing: TTG Asia, TTG China, TTG India, TTGmice, TTG-BTmice China, TTG Asia Luxury dan TTGassociations. Proses voting dilaksanakan selama dua bulan, dimulai pada bulan Mei sampai bulan Juli 2016 Kriteria voting untuk The Best Hotel Award dilihat dari beberapa hal, seperti servis dan fasilitas terbaik, keuntungan nilai tambah terbaik, serta tim penjualan dan pemasaran paling professional dalam hal ide dan pelayanan yang inovatif.

“Dengan memenangkan penghargaan Best City Hotel-Jakarta, Gran Meliá Jakarta membuat kesan pada industri perhotelan dengan standar di atas hotel-hotel lainnya dan mencerminkan daya saing di antara hotel-hotel di Jakarta,” kata Ruth.

photo credit: gran melia jakarta/grandsuiteroom

photo credit: gran melia jakarta/grandsuiteroom

Gran Meliá Jakarta adalah hotel bintang lima yang memiliki arsitektur yang menakjubkan, menyediakan 407 kamar mewah yang luas dengan desain yang istimewa, perpaduan layanan yang sangat baik dan fasilitas yang diperbaharui membuat hotel internasional yang ikonik ini menjadi patokan kemewahan abad ke-21 di pusat kota Jakarta. Karena lokasinya yang strategis, hotel in menjadi akses ke kawasan bisnis dan komersial yang berbatasan dengan tiga jalan utama yaitu Jend. Sudirman, Jend. Gatot Subroto dan HR. Rasuna Said. Selain itu, Gran Meliá Jakarta merupakan hotel bintang lima terdekat dari tol menuju arah bandara.

Dengan stafnya yang berkomitmen penuh pada keunggulan layanan, Gran Meliá Jakarta adalah tempat bisnis yang sempurna yang memiliki fasilitas yang lengkap untuk para pelancong bisnis seperti restoran internasional, kolam renang outdoor, spa dan pusat kebugaran. Dengan mencapai penghargaan sebagai Best City Hotel di Jakarta, Gran Meliá Jakarta akan terus menawarkan layanan yang paling eksklusif dengan akomodasi yang berkualitas.(ash)

Gran Melia, Jakarta

Gran Melia, Jakarta

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edu Bisnis

APLI: Peluang Bisnis di Penjualan Langsung Masih Terbuka Lebar

Published

on

credit: APLI/dok

JAKARTA – Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), organisasi yang menjadi wadah persatuan dan kesatuan tempat berhimpun para Perusahaan Penjualan Langsung (Direct Selling/DS) dan network marketing, termasuk perusahaan yang menjalankan penjualan dengan sistem berjenjang (Multi Level Marketing/MLM) di Indonesia mengakui terjadinya perubahan lanskap pasar setelah serangan pandemi COVID-19, namun sektor bisnis ini masih menyimpan peluang bisnis yang prospektif. Penjualan Langsung dan network marketing secara umum adalah satu-satunya industri resmi yang mempromosikan kesehatan, kesejahteraan dan pendapatan sekaligus yang menjawab tantangan dan kebutuhan masa kini.

Bicara di dalam Board Meeting APLI, Ketua Umum APLI Kany V. Soemantoro mengakui tantangan terbesar yang dihadapi APLI saat ini adalah memahami perubahan perilaku konsumen. Krisis kali ini mendorong masyarakat mengubah pola hidup, pola konsumsi dan pola belanja mereka, serta hal-hal yang kini menjadi prioritas di dalam kehidupan mereka secara umum. Tantangannya adalah bagaimana anggota APLI bisa memberikan solusi terhadap kebutuhan tersebut.

“Hingga kini belum ada cetak biru sektor Penjualan Langsung (direct marketing) yang bisa menjadi referensi pasca pandemi. Para anggota APLI pun masih dihadapkan pada dilema antara mempertahankan pola yang sama dengan masa pra-pandemi, atau mencoba saluran dan strategi baru sebagai respon terhadap perubahan di lingkungan kita. Jujur saja, kami juga belum bisa memprediksi apa yang akan terjadi esok, yang jelas APLI berkomitmen menyediakan panduan yang berempati dan transparan bagi masyarakat untuk mengembalikan kekuatan ekonominya, serta menggerakan kembali roda perekonomian dan pertumbuhan yang sempat mandek terdampak krisis COVID-19 ini,” papar Kany V. Soemantoro.

Untuk menjalankan komitmen ini, Kany V. Soemantoro mengimbau para Perusahaan Penjualan Langsung kembali pada motivasi masyarakat bergabung menjadi anggota penjualan langsung, yakni 81% untuk membeli produk dengan rabat, serta 72% untuk mengembangkan kepribadian.

“Kita bisa mulai bergerak dari dua kutub ini, product purchasing dan pendidikan. Dua kutub ini, baik dari sisi produk ditambah pola pendidikan yang baik bisa menambah hasil yang baik. Pastikan produk kita memiliki efikasi yang baik, sesuai janji dan harga yang tepat, serta kita menggelar program pelatihan benar-benar bermanfaat,” tutur Kany V. Soemantoro.

Lebih jauh, Kany V. Soemantoro juga menjelaskan bahwa pendidikan sendiri sudah menjadi amanat Permendag No.70/2019 tentang Distribusi Barang Secara Langsung, bahwa perusahaan penjualan langsung wajib melaksanakan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan para Penjual Langsung, agar bertindak dengan benar, jujur, dan bertanggung jawab.

Perspektif ke Masa Depan

Jika diobservasi saat ini, tidak sulit untuk menyadari bahwa banyak masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan mereka akibat krisis dan mereka akan mencari peluang baru. Banyak di antara mereka yang akan beralih ke pekerjaan paruh waktu, tetapi pilihan pekerjaan paruh waktu pun menjadi terbatas, karena sejumlah perusahaan seperti ojek online dan usaha startup akan memerlukan waktu pemulihan khusus, hingga ekonomi pulih.

CEO dan Chairman HDI Brandon Chia mengungkapkan sebagai industri, tidak sulit untuk melihat prospek Penjualan Langsung dan network marketing yang akan mengalami lompatan besar dalam permintaan. “Namun, lompatan besar ini juga bisa jadi sebab kejatuhan juga. Banyak money game yang mungkin terjadi. Mungkin ada sejumlah orang yang menggunakan kesempatan untuk menipu orang. Jika APLI tidak melakukan sesuatu, industri Penjualan Langsung sekali lagi akan mendapat citra buruk di negeri ini, kecuali kita melakukan sesuatu terlebih dahulu dan hanya jika kita melakukannya bersama-sama,” tegas Brandon Chia.

Pengalaman serupa sebenarnya juga terjadi di negara lain, misalnya Singapura di era 1990-an. Ketika itu, Penjualan Langsung dianggap ilegal, asuransi dan real estat juga dipandang remeh oleh masyarakat. Saat itu, jika mengaku sebagai agen asuransi atau agen real estat, masyarakat akan memandang rendah Anda. Saat ini, ribuan orang bangga menjadi agen Asuransi dan Real Estat, sayangnya hal yang sama belum terjadi di Penjualan Langsung, hingga kini masih belum ada kebanggaan.

“Bagaimana Asuransi dan Real Estat bisa mengubah persepsi publik? Melalui pendidikan, bekerja sama dengan pemerintah dan menetapkan standar untuk anggota telah mengubah kesan buruk terhadap bisnis ini menjadi sesuatu yang sah dan berharga. Itu sebabnya saya mengajak kita semua. Indonesia, perlu menjalankan perusahaan Penjualan Langsung dengan benar. Kita adalah satu-satunya industri yang mempromosikan kesehatan, kesejahteraan dan pendapatan sekaligus. Kita bisa memberi orang harapan, tetapi berilah mereka harapan nyata, bukan mimpi bodoh. Kita dapat membantu bangsa untuk keluar dari krisis dan lebih berkembang, yaitu dengan pendidikan!” tandas Brandon Chia.

Sehingga bagi APLI sebenarnya momen pemulihan ekonomi ini adalah kesempatan besar menunjukkan kepada bangsa ini bahwa Penjualan Langsung adalah industri yang terpercaya dan dapat membuat dampak positif. Dengan fokus bekerja sama dan mengajarkan nilai-nilai yang tepat, budaya yang tepat, dan kode etik yang tepat kepada semua distributor, member, enterpriser, dan lain-lain.

Sebenarnya prestasi sektor bisnis Penjualan Langsung sudah cukup banyak, namun sayangnya sering tenggelam dikarenakan masyarakat masih belum memahami betul apa dan bagaimana prestasi bisa diukir oleh Perusahaan Penjualan Langsung, maupun pimpinan-pimpinannya. Jika informasi ini bisa dipahami secara luas, maka Penjualan Langsung bisa memberikan harapan yang bisa diandalkan kepada anggota masyarakat.

Sejalan dengan Brandon Chia, Julianto Eka Putra, seorang Top Leader HDI yang berhasil dinobatkan menjadi Kick Andy Hero 2018 juga menggugah kesadaran para anggota APLI untuk membenahi reputasi Penjualan Langsung sebagai bentuk sumbangsih bagi bangsa.

“Dua kekuatan sektor bisnis Penjualan Langsung adalah leadership dan basic entrepreneurship skill. Untuk menjalankan bisnisnya, umumnya para member atau distributor MLM dan Penjualan Langsung dibekali berbagai keahlian praktis yang sangat bermanfaat mengokohkan jejak kami mereka di dunia bisnis. Problemnya, masyarakat masih memiliki stigma negatif terhadap bisnis MLM dan Penjualan Langsung. Padahal jika tidak ada stigma negatif, masyarakat akan lebih siap menerima pembekalan yang akan memperkaya skill mereka, ” papar Julianto Eka Putra yang telah lebih dari 20 tahun berkecimpung di Penjualan Langsung dan melalui 3 kali krisis ekonomi, 1998, 2008 dan 2020 ini.

Sebagai langkah lanjutan, APLI akan mengadakan serangkaian kampanye video yang akan disebar menggunakan platform jejaring sosial YouTube, berisi motivasi dan inspirasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mengembalikan semangat berusaha di era kenormalan baru.

Kampanye video ini juga ditujukan untuk membangun reputasi positif sektor bisnis Penjualan Langsung, sebagai bisnis yang absah dan bermanfaat, sambil sekaligus juga menampilkan prestasi dan pencapaian sektor bisnis Penjualan Langsung yang memberikan peluang usaha bagi masyarakat Indonesia.

Di kesempatan yang sama, Djoko Kumara, Wakil Ketua Urusan Internal juga menegaskan keyakinannya mengenai sektor Penjualan Langsung.

“Intinya, there’s no easy money, bahkan di Penjualan Langsung, hasil usaha akan sepadan dengan usaha yang dilakukan. Bagaimanapun juga sektor usaha Penjualan Langsung membutuhkan kerja keras, komitmen, kedisiplinan dan konsistensi, sama seperti sektor usaha lain pada umumnya. Hanya saja 2 benefit utama dari sektor bisnis ini, pertama adalah empowerment, dimana tiap anggota, distributor atau enterpriser diharapkan menguatkan anggota lainnya dengan kelebihan masing-masing, serta enrichment, dimana perusahaan selalu berupaya memberikan pengayaan baik keahlian, maupun peluang bagi para membernya. Kami yakin metodologi ini akan bermanfaat bagi masyarakat untuk kembali menumbuhkan kekuatan ekonominya,” papar Djoko Kumara. [pc]

penulis: Prilly Chandradi

Continue Reading

Edu Bisnis

inDriver Kembali Beroperasi Penuh di Tasikmalaya

Published

on

TASIKMALAYA – inDriver akan melanjutkan operasi penuh di kota Tasikmalaya yang segera berlaku. Mulai hari ini, pengguna dapat kembali memesan transportasi atau mendapatkan penghasilan dengan inDriver.

“Karena ancaman COVID-19 tetap ada, kami ingin mengingatkan pengguna kami untuk terus menjaga jarak sosial dan praktik kebersihan pribadi yang baik, dan sepenuhnya mematuhi aturan dan peraturan yang ditetapkan oleh pihak berwenang ketika menggunakan layanan inDriver,” ujar Communications Manager inDriver, Mohd Zulkarnain, dalam rilisnya, Kamis (11/06).

Dia mengatakan, Pengguna harus mengenakan masker setiap saat, membersihkan tangan dengan pembersih tangan secara teratur, melakukan sanitasi kendaraan secara teratur, dan tetap tinggal di rumah dan cari bantuan medis apabila merasa tidak sehat.

Sementara untuk penumpang, kata Dia, juga harus mengenakan masker setiap saat, membersihkan tangan dengan pembersih tangan sebelum memasuki kendaraan dan setelah turun dari kendaraan, dan tetap tinggal di rumah dan cari bantuan medis jika merasa tidak sehat.

Dia mengatakan, akan mendorong pengguna inDriver untuk waspada selama masa-masa yang tidak pasti dan sulit ini. Tetaplah di rumah dan hanya bepergian jika perlu.

“Kami akan terus memantau situasi saat ini dan memberikan informasi terbaru kepada pengguna kami tentang setiap perubahan operasi kami,” tutupnya. [mz]

penulis: zul

Continue Reading

Edu Bisnis

JANZ Hadirkan Teknologi POS Canggih untuk Pertumbuhan Sektor Bisnis Indonesia

Published

on

credit: Ben Marvin (Country Manager Zebra) dan Yansen Setiawan (President Director PT Harrisma & Founder JANZ)/dok

Trend dan perangkat teknologi seluler yang baru muncul mengubah ekspektasi pelanggan di industri retail. Untuk tetap kompetitif, bisnis retail skala kecil, menengah atau besar perlu mengadopsi perangkat berteknologi POS yang menjawab perubahan kebutuhan ini.

Apalagi dihadapkan pada berbagai tantangan yang menekan margin, industri retail dituntut harus semakin memaksimalkan efisiensi dalam proses bisnisnya, sembari memunculkan upaya-upaya untuk mendukung transformasi digital.

Memahami hal tersebut PT. Harrisma Informatika Jaya, pemasok dan distributor produk-produk teknologi informatika (IT) terbesar di Indonesia meluncurkan JANZ, sebuah brand lokal baru penyedia rangkaian produk pendukung teknologi POS (Point of Sale) canggih di pasar Indonesia.

Terkait dengan peluncurannya, JANZ menggandeng Zebra yang merupakan global market leader di pasar AIDC (Automatic Identification and Data Capture).

Ditemui di acara peluncuran JANZ brand, Yansen Setiawan, Founder JANZ yang juga Presiden Direktur PT. Harrisma Informatika Jaya mengakui terjadinya peningkatan kebutuhan pemindaian dan pengelolaan data di era digital dan memasuki era big data sekarang ini.

“Kehadiran JANZ di pasar Indonesia membuktikan kesiapan kami membuka potensi dan peluang baru dalam pencatatan dan manajemen data menggunakan sistem POS yang terintegrasi dengan teknologi canggih. JANZ akan mendukung pelanggan kami dengan menghadirkan rangkaian produk yang mengedepankan kemudahan, solusi dan layanan baru. Produk-produk ini kami lahirkan untuk mendukung strategi digitalisasi, meningkatkan kualitas dan keuntungan konsumen di industri retail,” papar Yansen Setiawan.

Tantangan mutakhir di industri retail menuntut industri ini melakukan efisiensi semaksimal mungkin. Perolehan margin di industri ini semakin tergerus berbagai faktor, sementara di sisi lain ekspektasi konsumen digital menuntut pelayanan yang lebih personal, semua harus ditanggung oleh selisih keuntungan yang selama ini menggerakan roda industri ini. Tidak ada jalan lain, otomatisasi menjadi solusi untuk menyelesaikan kebutuhan akan efisiensi ini. Di titik inilah, teknologi POS memberi solusi jitunya.

Setiap kegiatan jual beli, saat ini membutuhkan sebuah ‘point of sale’ atau sering disingkat ‘POS’. Pada esensinya, POS adalah pengaturan yang ditempatkan untuk memproses pembayaran langsung dari konsumen atau pelanggan. POS bukanlah mesin atau proses yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian perangkat yang jika dihubungkan akan membantu Anda memproses transaksi dengan konsumen secara efisien dan menyederhanakan proses bisnis yang terhubung dengan penjualan Anda.

“Sistem POS yang memadai adalah bagian esensial dalam mengelola usaha jual beli di masa kini. Sistem POS yang terintegrasi dengan teknologi tak hanya membantu Anda mengelola penjualan dan inventarisasi, namun juga dapat membantu Anda lebih memahami konsumen, bahkan staf dan bisnis Anda, memungkinkan Anda mengelola keuntungan lebih baik dan bekerja lebih cerdas,” jelas Yansen Setiawan.

Dengan teknologi POS yang memadai, otomatisasi di industri retail memiliki kemampuan untuk membentuk ulang bisnis model, memperluas rantai manfaat dengan kemampuannya memberikan manajemen pasokan yang lebih baik, kecepatan pengolahan dan analisis data, sembari memberikan layanan yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan konsumen.

Sistem pencatatan dan pengelolaan aset dan persediaan yang baik akan membangun landasan bagi kendali inventaris yang sukses, manajemen pemeliharaan, pemanfaatan sumber daya dan serangkaian keuntungan lainnya yang merampingkan proses dan berkontribusi terhadap pendapatan akhir yang sehat.

Teknologi POS yang umumnya dibutuhkan oleh industri retail saat ini seperti peranti penangkap data cepat dan tepat seperti handheld imager dan periferalnya seperti thermal receipt printer, cash drawer dan barcode scanner. Penggunaan produk-produk dan sistem POS canggih di industri retail, bahkan lebih luas lagi bisa dimanfaatkan di industri kesehatan, manufaktur, pergudangan, hingga hospitality.

Mengusung visi untuk menjadi produsen teknologi POS terbaik di Indonesia, JANZ hadir dengan membawa 4 prinsip yang akan memberikan manfaat bagi industri retail di Indonesia, di antaranya: Powerful, produk JANZ didesain secara khusus untuk tetap dalam performa yang maksimal meski digunakan dalam “harsh environment” baik berupa suhu yang ekstrim dingin atau panas, juga tahap terhadap sinar radiasi, sinar radioaktif, dan tekanan mekanis yang berlebih.

One Stop Solution, JANZ memiliki lini produk yang lengkap untuk POS dan periferal, mulai dari all-in-one mesin kasir, thermal receipt printer, mobile printer cash drawer hingga barcode scanner yang memiliki teknologi terkini di kelasnya.

Reliable, JANZ menjanjikan ketenangan pikiran konsumen dengan tersebarnya jaringan service point yang tersebar di seluruh Indonesia.

Value for money, sebagai principal, JANZ mendengarkan dan menganalisis pasar secara mendalam sehingga harga yang ditetapkan dapat diterima dengan baik oleh pasar di Indonesia, serta kemudahan memperoleh suku cadang produk JANZ dengan harga terbaik.

Dalam peluncurannya, JANZ menggandeng Zebra, perusahaan IT yang bermarkas di Lincolnshire, Illinois, Amerika Serikat. Hingga saat ini, Zebra adalah global market leader untuk teknologi Automatic Identification and Data Capture (AIDC).

Kolaborasi antara JANZ dengan Zebra terlaksana untuk semakin mempermudah industri retail dalam memenuhi kebutuhannya.

Dengan sejarah panjang Zebra, tentunya akan mengangkat reputasi JANZ ke level global dengan keahlian berstandar internasional.

Selain itu keduanya berkomitmen untuk memperkaya opsi otomatisasi yang tersedia pada industri retail. JANZ menjamin keunggulan produknya, Zebra menjamin kualitas peralatan yang digunakan.

Pada kesempatan yang sama, Selvie Wijaya, Sales Director PT Harrisma Informatika Jaya, mengatakan, kolaborasi JANZ dan Zebra merupakan bagian dari visi perusahaan untuk menjadi perusahaan penyedia sistem POS kelas dunia.

“Kehadiran mesin-mesin POS melalui kerja sama dengan Zebra merupakan bagian dari program perusahaan untuk terus memperkuat positioning JANZ di kancah bisnis nasional. Kami juga ingin menanamkan di benak pelanggan, bahwa JANZ adalah brand yang senantiasa berkomitmen menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi. Pastinya kami patut berbangga karena bisa berkolaborasi dengan Zebra yang sudah teruji menjadi global market leader,” papar Selvie Wijaya.

Sementara itu, Country Manager Zebra Indonesia Ben Marvin Tan mengaku senang bisa membangun hubungan yang berfokus pada peningkatan keahlian dan potensi untuk mengembangkan industri retail di Indonesia.

“Zebra menyadari pentingnya sinergi dalam mengembangkan potensi yang dimiliki Industri retail di Indonesia. Oleh karena itu, kami percaya bahwa JANZ, di bawah naungan nama besar Harrisma yang telah lebih dari 3 dekade mengembangkan bisnisnya di Indonesia, untuk bersama-sama mendukung industri retail dan menghadapi tantangan yang ada,” jelas Ben Marvin Tan.

Salah satu produk yang menandai terjadinya kolaborasi JANZ dan Zebra adalah handheld imager JANZ by Zebra DS10 yang hadir dengan alat manajemen dan konfigurasi yang sangat mudah digunakan, sehingga pengguna pertama kali pun bisa mudah mengatur pemindai.

Selain itu terdapat pula Software Development Kit (Alat Pengembangan Perangkat Lunak) yang menyediakan semua yang Anda butuhkan, termasuk dokumentasi, uji utilitas dan kode sumber sampel untuk Windows, Android, iOS dan Linux.

JANZ by Zebra DS10 menawarkan kinerja pemindaian barcode praktis sehingga pekerja dapat dengan mudah menangkap barcode 1D dan 2D.

Selain itu JANZ by Zebra DS10 memiliki fitur omnidirectional scanning yang memungkinkan Anda untuk melakukan pemindaian barcode dari berbagai arah.

“Jika Anda membuka usaha kecil atau melacak gudang besar, salah satu fitur terpenting adalah pemindai barcode. Pemindai barcode memudahkan untuk mengkategorikan dan menarik harga ketika pembeli sedang check-out, memastikan aliran transaksi dan cash flow yang teratur dan stabil, serta tidak terganggu. Pemindai barcode juga digunakan untuk melacak semua inventaris Anda melalui quick scan dan dapat mengirim dan menyimpan data dalam dokumen file di komputer Anda. Bisnis Anda menjadi sangat efisien dan dijamin margin pun akan terhimpun dengan rapi dan pastinya menghadirkan senyuman di bisnis Anda,” jelas Yansen Setiawan.

penulis: widya yosevina

Continue Reading

Terpopuler