Connect with us

Kampus

Hadapi Era Digitalisasi, BEM Universitas HKBP Nommensen Medan Gelar Seminar Pendidikan Nasional

MEDAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas HKBP Nommensen Medan menggelar seminar nasional Pendidikan yang bertajuk “Tantangan & Peluang Pendidikan Menciptakan Kewirausahaan Bersama Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0”. Seminar tersebut diadakan di Aula Kedokteran UHN Medan, Sabtu (18/05/2019).

Pembicara dalam seminar ini, Dr. Janner Simarmata, M.Kom dari Universitas Negeri Medan, Founder/CEO Kita Menulis dan Dr. Agusmanto JB. Hutauruk, S.Pd., M.Si dari Universitas HKBP Nommensen Medan dan Moderator Samuel Sinaga.

Ketua Panitia Roby Nadapdap dalam sambutannya, bahwa tema ini sangat cocok dengan kemajuan jaman saat ini, dan ini kami pilih untuk mengetahui sejauhmana perkembangan revolusi industri tersebut.

Peserta yang turut hadir pada seminar ini dari beberapa perguruan tinggi yang ada di kota Medan, “Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (Unimed), Universitas Katolik Santo Thomas (Unika), Universitas Prima Indonesia (Unpri) dan Universitas Darma Agung (UDA),” terang Roby.

Acara ini juga dihadiri Dr. Efron Manik, M.Si selaku Wakil Dekan III Bagian akademik dan Drs. Simon Panjaitan, M.Pd, Ketua Prodi Pend. Matematika.

Dalam sambutannya Efron Manik dan sekaligus membuka acara seminarnya ini menyatakan dalam era digitalisasi saat ini, banyak yang harus mahasiswa gali.

“Sepertinya pembelajaran dikelas, begitu kurang diminati oleh generasi milenial saat ini,” ucapnya.

Diharapkan dengan adanya seminar Pendidikan nasional yang sekaligus dirangkai dengan pengumuman juara kartun (karya tulis nasional) ini, dapat membuka wawasan peserta.

Dalam paparannya, Janner Simarmata menjelaskan bahwa saat ini Revolusi industri telah mengalami puncaknya dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia.

“Revolusi industri terkini atau generasi keempat mendorong sistem otomatisasi di dalam semua proses aktivitas. Tidak dapat dipungkiri jika revolusi industri 4.0 membuka peluang yang luas bagi siapapun untuk maju. Informasi yang sangat melimpah menyediakan manfaat yang besar untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun perekonomian,” terangnya.

Ini dapat dilihat dari jumlah penduduk Indonesia saat ini 286.2 juta dan pengguna yang aktif menggunakan internet 150 juta atau sekitar 56 persen, sedangkan pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

“Besarnya populasi dan pesatnya pertumbuhan pengguna internet dan telepon merupakan potensi bagi ekonomi digital nasional,” ucap Janner.

Alhasil, muncul e-commerce, transportasi online, toko online dan bisnis lainnya berbasis internet di tanah air.

“Ini akan menjadi kekuatan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara dan peluang ini dapat dimanfaatkan para kaum milenial saat ini,” sambungnya.

Selanjutnya Agusmanto Hutauruk dalam materinya disampaikan bahwa revolusi industri 4.0 juga disebut sebagai era disrupsi atau perubahan, dimana adanya pergeseran aktivitas dunia nyata ke dunia maya.

“Perkembangan revolusi ini sangat jelas terlihat dampaknya, banyak pekerjaan yang telah digantikan dengan robot ataupun mesin,” sambungnya.

Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital.

“pada saat ini pula tantangan seorang guru menjadi lebih berat, guru harus lebih menguasai teknologi agar bisa menghadapi era saat ini,” tandasnya.

Ketua BEM Lisbet Pintauli Sitorus dalam acara seminar ini menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan BEM yang kesembilan kali.

“Sebelumnya kita sudah melakukan PMB, Seminar, Pengabdian Masyarakat ke Kab. Karo dan Samosir, Festival Pendidikan dan lain-lain,” ucap Lisbet. [js]

penulis: Janner Raja Simarmata

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kampus

Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Raih Juara I Infografis Nasional 

Published

on

photo credit: Cut Shabrina Dzati Amani/dok

EDUPUBLIK, BANDUNG – Cut Shabrina Dzati Amani, mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung meraih juara I infografis pada perlombaan Festival IQTAF Nasional 2020 bertajuk “Mahasiswa Menulis Tafsir, Gali Potensi dan Daya Pikir Kritis” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir (HIMA IQTAF), Institut PTIQ Jakarta dari tanggal 2-18 Mei 2020.

Perempuan kelahiran Bandung pada tanggal 28 Februari 2001 ini menjelaskan cabang perlombaan pada Festival IQTAF Nasional 2020 terdiri dari dua kategori: untuk lomba nasional antar-mahasiswa seluruh Indonesia terdapat lomba menulis Artikel Ilmiah Tafsir dan lomba membuat Infografis Tafsir. Sedangkan untuk lomba internal antar-mahasiswa PTIQ terdapat lomba karya tulis non-Ilmiah.

“Alhamdulillah berkat dukungan, dorongan, arahan dan bimbingan dari semua pihak, dengan izin dan kuasa Allah saya dapat meraih juara 1 untuk kategori infografis dengan tema agama dan isu-isu kesehatan,” ujar Cut Shabrina Dzati Amani, dalam keterangannya, Di Bandung, Selasa (19/5).

Dia mengatakan, ini merupakan prestasi perdananya di dunia perkuliahan. Sederet prestasi lainnya didapat saat Ia duduk dibangku di SMA.

“Alhamdulillah, waktu SMA pernah meraih  Juara 3 lomba foto Sawala Ecovillage 2017 dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Juara 2 Videografi Fisika UPI, dan juara 1 Videografi dalam acara CROWN Unpad,” katanya.

Dengan meraih juara I infografis ini Dia berharap prestasi saat ini menjadi awal Dia berkecimpung di perlombaan bidang kealquranan dan tafsir atau pun bidang lainnya di dunia perkuliahan.

“Dan semoga kedepannya bisa lebih baik lagi, Aamiin,” harapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin, Wahyudin Darmalaksana, sangat mengapresiasi segala prestasi mahasiswa di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Kami bangga atas berbagai prestasi yang diraih mahasiswa. Kami mendorong agar mahasiswa termotivasi mencapai berbagai prestasi, baik internal maupun eksternal,” kata Wahyudin.

Prestasi internal meliputi rangking, produk capaian perkuliahan, dan lulus tepat waktu. Prestasi eksternal mencakup aktivitas, kreatifitas, inovasi, dan pengembangan yang menopang penguatan akademik.

“Menjadi juara merupakan kebanggaan untuk semua. Kebanggaan mahasiswa yang bersangkutan, orang tua, himpunan mahasiswa, jurusan, fakultas, dan universitas. Kami ucapkan selamat serta memberikan penghargaan kepada Cut Shabrina Dzati Amani atas prestasi yang telah diraih sebagai Juara I Infografis dalam Perlombaan Festival IQTAF Nasional 2020,” tandasnya.

Wakil Rektor III UIN Sunan Gunung Djati Bandung, H. Ah. Fathonih mengucapkan Selamat untuk ananda Cut Shabrina Dzati Amani, mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Bandung atas prestasinya meraih juara 1 infografis dalam perlombaan Festival IQTAF Nasional 2020.

“Tentunya saya atas nama Wakil Rektor 3 ikut bangga, atas raihan prestasi prestisius di tengah aktivitas kemahasiswaan hari ini sedang menurun karena wabah Covid-19 yang mengharuskan mahasiswa berada di rumah,” pungkasnya. [haj]

Continue Reading

Kampus

Fakultas Ushuluddin UIN Bandung Bersama Bahas Borang Indikator Kinerja Utama

Published

on

credit: Fakultas Ushuluddin UIN Bandung/dok. humas

EDUPUBLIK, BANDUNG – Fakultas Ushuluddin (FU) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung memastikan terlaksananya tata kelola yang baik merupakan komitmen bersama.

“Membahas borang indikator kinerja utama akreditasi nasional merupakan upaya mewujudkan tata kelola yang baik,” ujar Dekan FU UIN SGD Bandung Wahyudin Darmalaksana, dalam keterangannya, (8/1).

Lebih lanjut, Dia mengatakan, tata kelola hendaknya dilandasi kebijakan. Borang indikator kinerja utama akreditasi nasional menjadi kebijakan untuk dibahas secara detail, integral, komprehensif, dan tuntas.

“Kami menyusun sistematika berdasarkan matriks penilaian laporan evaluasi diri dan LKPS. Hal ini kami tuangkan ke dalam borang indikator kinerja utama untuk target akreditasi A. Berikut kami sampaikan sasaran strategis, jenis-jenis indikator kinerja utama, baseline, dan target pencapaian 2020-2023,” katanya.

Saat ini FU UIN BDG, mencanangkan kode 68 untuk diusung bersama. Adapun kode 68 ini adalah butir akreditasi program studi dalam matriks penilaian laporan evaluasi diri dan LKPS.

Hasil agenda ini direkomendasikan untuk dibahas bersama seluruh dosen dan stakeholders di agenda mendatang pada Rapat Kerja FU UIN SGD Bandung 2020. [has]

Continue Reading

Kampus

Menag Minta Kajian Keislaman Dihidupkan Kembali Di Kampus

Published

on

credit: Menteri Agama Fachrul Razi/dok. UIN SGD

EDUPUBLIK, BANDUNG – Menteri Agama (Menag) meminta civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk memikirkan inovasi yang dapat menghidupkan kembali kajian keislaman di kampus.

Karena kajian keislaman di kampus islam berkempang pesat pada tahun 80-an. Sayang, tradisi keilmuan tersebut kini dirasakan mulai meredup.

“Saya meminta kepada semua pejabat terkait untuk turut memikirkan inovasi-inovasi yang perlu dilakukan, agar PTKIN tidak hanya menyuburkan ilmu-ilmu umum, namun menghidupkan kajian strategis ilmu-ilmu keislaman sebagai korps keilmuan yang strategis,” ujar Menteri Agama Fachrul Razi, di UIN Bandung, Jumat (20/12).

Lebih lanjut, Menag sangat mengapresi jumlah pendaftar PTKIN yang terus meningkat. Untuk jalur UM-PTKIN misalnya, sejak dibuka kali pertama pada 2010, pendaftar meningkat dari hanya 8.845 menjadi 157.039. Pendaftar SPAN tahun 2017, sebanyak 82.005 siswa. Jumlah pendaftar naik lagi di tahun 2018 dan 2019.

Namun, lanjutnya, ada fakta yang kurang baik, karena minat mahasiswa pada bidang kajian keislaman terus menurun.

“Islamic Studies peminatnya rendah. Ini menjadi keprihatian bersama, karena PTKIN awalnya dibangun sebagai wadah kajian ilmu keislaman,” ujarnya.

Kini PTKIN terus berkembang dan banyak diminati masyarakat. Menag berharap agar sivitas akademika PTKIN memikirkan agar kejian keislaman tidak pudar. “Ini juga concern saya,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, melemahnya rumpun ilmu keislaman di PTKIN, karena kebanyakan mahasiswa yang ingin melanjutkan ke UIN, umumnya lemah dalam ilmu keislamannya.

“Ini harus menjadi perhatian kita bersama, terutama kampus IAIN yang berniat menjadi UIN,” pungkasnya. [haj]

Continue Reading

Terpopuler