Connect with us

Art and Science

Kabupaten Berau Surganya Pariwisata

BERAU-KALTIM, edupublik.com – Sudah menjadi rahasia umum bila Kabupaten Berau menyimpan sejuta pesona alam di bumi kandungnya. Mulai dari wilayah pesisir hingga alam bawah laut sudah mendapat pengakuan tentang kemolekan alamnya dari para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Bukan hanya Kepulauan Derawan atau Pulau Kaniungan saja, ada Pulau Rabu-Rabu dan Kampung Merabu, yang siap menjadi saksi bisu liburan berkesan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Bumi Batiwakkal (sebutan Kabupaten Berau-red)

Setiap kali menjelang liburan panjang, terutama pada saat libur lebaran, hampir setiap orang merencanakan perjalanan wisata, baik bersama rekan kerja maupun kerabat dekatnya. Ada banyak destinasi wisata yang bisa menjadi pilihan, seperti Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, Pulau Derawan, Pulau Kakaban, hingga Pulau Kaniungan. Semuanya menjanjikan keindahan yang tidak bisa dilukiskan hanya dengan ungkapkan kata-kata.

Pulau Maratua misalnya, di sana wisatawan ditawarkan spot bawah laut bak akuarium dan beberapa gua yang tidak kalah indahnya dengan gua-gua yang ada di daerah lain. Salah satunya adalah gua Sambat.

Pulau Sangalaki, di sana pengunjung bisa menyaksikan langsung tukik-tukik kecil dilepaskan ke pantai, berenang mengarungi ombak untuk kembali ke daratan yang sama setelah beberapa tahun kemudian. Sedangkan Pulau Derawan, tidak perlu banyak dijelaskan. Pulau ini sudah terkenal sebagai salah satu kepulauan dengan spot diving terbaik hingga ke level internasional.

Yang menarik adalah Pulau Kakaban. Di sana ada spesies ubur-ubur yang tidak menyengat. Kabarnya ubur-ubur tidak menyengat seperti yang ada di danau Pulau Kakaban tersebut hanya ada di dua tempat di dunia, dan salah satunya adalah di Pulau Kakaban itu sendiri. Begitu pula jika berkunjung ke Pulau Kaniungan, ada banyak keistimewaan yang disajikan oleh alam pulau yang juga menjadi bagian dari Kampung Teluk Sumbang tersebut.

Keberagaman kekayaan alam itulah yang memancing kedatangan ribuan, bahkan puluhan ribu wisatawan ke Kabupaten Berau setiap tahunnya dengan menggunakan transportasi darat, laut maupun udara.

Biasanya, puncak kunjungan wisatawan terjadi pada libur lebaran dan tahun baru. Bahkan, pada kedua momentum itu, untuk menikmati keunikan Danau Dua Rasa, Labuan Cermin, wisatawan harus rela mengantri. Tidak jarang banyak yang harus kembali lagi keesokan harinya, dikarenakan antrian yang cukup panjang.

Oleh warga setempat, lonjakan wisatawan dijadikan lahan mengais rejeki tahunan. Ada yang sengaja menyiapkan rumahnya sebagai penginapan dadakan, ada pula yang menjadi tour guide (pemandu wisata) sebagai pekerjaan sampingan, dan juga penyedia jasa kapal penyeberangan ke berbagai detinasi tujuan.

Derasnya kunjungan wisatawan yang datang ke Kabupaten Berau, membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau tidak perlu bersusah payah melakukan promosi. Pihaknya hanya memperkuat kerjasama dengan berbagai instansi dan lembaga termasuk aparat keamanan untuk menertibkan arus lalu lintas sepanjang masa liburan. Mulai dari aparat kepolisian, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), hingga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bertugas menjaga kondusifitas berjalannya masa liburan.

“Kalau promosi kami rasa sudah cukup. Wisatawan yang datang ke Berau setiap tahunnya itu terus meningkat, mungkin karena promosi dari satu wisatawan ke wisatawan lain yang juga turut membantu mempromosikannya secara tidak langsung,” ujar Saprudin Ithur, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Berau sebagaimana dikutip edupublik dari laman beraunews.com.

Tak kalah dengan pulau-pulau lainnya, ada satu pulau yang diyakininya bakal menjadi spot andalan selanjutnya setelah beberapa pulau yang ada. Pulau Rabu-Rabu, yang berada di Kecamatan Derawan juga diperkirakan akan menjadi lokasi menakjubkan bagi pencinta diving.

“Kalau Derawan orang-orang sudah tidak ragu lagi dengan keindahannya. Nah, sekarang ada lagi yang terbaru, namanya Pulau Rabu-Rabu. Menurut saya ini bisa menjadi andalan wisata selanjutnya. Soal kekayaan biota laut dan terumbu karangnya jangan ditanya, silahkan coba untuk menikmatinya langsung,” kata pria kelahiran Samarinda, 3 Januari 1960 tersebut.

Sadar bahwa wisatawan yang datang tidak selalu menginginkan pemandangan pantai dan laut atau sekadar menyelam, Kampung Merabu, sebagai salah satu kampung yang berada di Kecamatan Kelay, siap menyambut wisatawan yang haus akan pengetahuan dan sejarah.

“Wisatawan yang datang juga tidak semuanya mencari kesenangan di daerah pesisir dan pantai, ada beberapa yang lebih memilih liburan ke tempat-tempat bersejarah maupun yang masih kental dengan tradisi dan adat kebudayaan, seperti Kampung Merabu. Meskipun jumlah pengunjung yang datang ke kampung ini jauh lebih sedikit daripada pulau-pulau bagian pesisir pantai, tetapi setiap tahunnya pasti ada peningkatan,” ungkap Saprudin.

Semakin berkembangnya pariwisata di kampung tersebut, berdampak pula pada roda ekonomi warganya yang mayoritas adalah suku Dayak Lebo. Mereka mulai pandai memanfaatkan peluang yang ada. Mereka mendirikan homestay atau sekadar penginapan untuk wisatawan yang semakin tahun semakin bertambah jumlahnya. Ada pula yang memanfaatkan hasil alam sebagai produk andalan, seperti madu hutan.

“Sejak dikembangkan sebagai daerah wisata, masyarakat mulai kreatif memanfaatkan hasil alam sekitarnya. Mereka bisa menjual madu hutan ataupun membuat obat-obatan tradisional untuk dijual kepada para wisatawan,” sambungnya sembari menunjukkan beberapa foto Kampung Merabu yang sempat ia abadikan.

Tidak akan menyesal wisatawan yang menyelipkan nama Kampung Merabu di daftar destinasi tujuan wisatanya. Selain bisa menyaksikan gua, karst dan hutan yang dijaga betul oleh masyarakat sekitar sebagai harta berharga bagi masa depan anak dan cucu mereka, wisatawan juga dapat mempelajari nilai-nilai sejarah.

“Tahun lalu (2015-red) wisatawan yang mengunjungi Kampung Merabu memang belum mencapai ribuan, tetapi melihat perkembangan dan kemajuan serta keterbukaan masyarakatnya dalam mengolah kampung, saya yakin tahun ini kunjungan ke kampung ini juga akan bertambah,” ucapnya dengan nada optimis.

Meski begitu, destinasi manapun yang menjadi tujuan wisatawan yang berkunjung ke Berau, pihaknya berharap agar semua pihak menjalankan perannya masing-masing agar kenyamanan pada hari libur panjang dapat dirasakan para wisatawan.

“Baik itu dinas kebersihan, BLH, Aparat Kepolisian, Dinas Perhubungan, Satpol PP, maupun lembaga-lembaga masyarakat harus bersama-sama menjalankan perannya demi kenyamanan kita semua, terutama mereka yang berkunjung. Karena kesan pertama yang akan menjadi nilai jual kita selanjutnya kepada para wisatawan yang datang,” ungkapnya mengakhiri perbincangan dengan beraunews.com, Sabtu (18/6/2016).(mta)

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Art and Science

Museum Macan Umumkan Program Pameran Baru Sepanjang 2020

Published

on

credit: museum macan/dok. facebook

EDUPUBLIK, JAKARTA – Pada 2020, museum MACAN berencana menggelar beberapa pameran seni dari seniman lokal dan mancanegara.

“Kami tidak sabar untuk menampilkan pameran skala besar karya-karya Melati Suryodarmo, Julian Rosefeldt, Agus Suwage dan Chiharu Shiota pada 2020,” kata Direktur Museum MACAN Aaron Seeto dalam siaran pers.

Program 2020 di MACAN dibuka dengan karya video masif, “Manifesto” pada Februari – Mei 2020 oleh perupa Jerman Julian Rosefeldt, yang ditampilkan dalam 13 layar.

Dalam karya ini, aktris Cate Blanchett tampil sebagai 12 karakter dan membacakan manifesto seni abad ke-20, juga tulisan para perupa, penyair, arsitek, penampil dan pembuat film termasuk Kazimir Malevich, Sturtevant, Sol LeWitt, Claes Oldenburg, Mierle Laderman Ukeles, André Breton, Bruno Taut, Lebbeus Woods, Yvonne Rainer dan Jim Jarmusch.

Presentasi ini dibuat dalam kemitraan dengan Art Gallery of New South Wales (AGNSW).

Pada Februari, MACAN menampilkan “Why Let the Chicken Run?”, pameran survei museum perupa kontemporer Melati Suryodarmo, yang akan menampilkan karya pertunjukan penting yang mengeksplorasi konsep tubuh dan dipengaruhi tradisi seni di Solo, kota asalnya. Juga studinya di Jerman, saat ia berguru pada seniman pertunjukan Marina Abramovic dan penari/koreografer Butoh Anzu Furukawa.

Pameran ini, ditampilkan bersamaan dengan “Manifesto”, berfokus pada sepilihan karya Melati, termasuk “Why Let the Chicken Run” (2001), yang dibuat sebagai penghormatan kepada salah satu panutannya dalam seni pertunjukan, Ana Mendieta, dan “EXERGIE -Butter Dance” (2012), salah satu karyanya yang paling populer.

Karya-karya yang ditampilkan berdurasi antara 15 menit hingga 12 jam, dan akan ditampilkan di hari-hari tertentu selama 13 minggu, menawarkan pemahaman yang menyeluruh akan kekaryaan Melati untuk pengunjung museum.

Sementara pada bulan Juli hingga Oktober, pengunjung bisa melihat pameran survei perupa kontemporer Agus Suwage berjudul “The Theatre of Me”. Agus dikenal akan pendekatan jenakanya terhadap isu sosial.

Pameran ini menampilkan potret diri sang perupa juga sepilihan lukisan, patung dan instalasi buatannya sejak 1980-an hingga kini.

MACAN juga membawa pameran tunggal terbesar Chiharu Shiota, seorang perupa Jepang yang tinggal di Berlin dan mengeksplorasi kekaryaannya selama 25 tahun.

“The Soul Trembles” yang akan dipamerkan selama November 2020 – Februari 2021 akan menampilkan instalasi yang kompleks dan indah berupa jaring-jaring merah dan hitam yang terbuat dari benang, yang terentang dan memenuhi ruang pamer.

Beberapa karyanya juga menggunakan barang sehari-hari, seperti sepatu dan piano yang terbakar, untuk mewujudkan konsep abstrak seperti kenangan, kekhawatiran dan mimpi. Pameran ini dihelat oleh Museum MACAN dan Mori Art Museum di Tokyo. [ant]

Continue Reading

Science

Pemerintah Dukung Pengembangan Varietas Buah dan Ternak Sapi Blora

Published

on

photo credit: Menristekdikti M Nasir/dok. Citra larasati
EDUPUBLIK.COM, Blora – Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus mendorong pengembangan produk atau hasil inovasi berbasis teknologi. Seperti pengembangan varietas buah di kebun buah PT. Mustika Sinar Semesta di Blora, Jawa Tengah.

Pasalnya Blora dikenal sebagai daerah gersang karena terletak di pegunungan kapur. Kendati demikian, perusahaan yang dikelola oleh Bambang Suharto ini berhasil mengembangkan varietas buah-buahan dengan kualitas unggul.

Salah satunya adalah buah alpukat dengan berat 1,7 – 2,5 kg. Alpukat ini memiliki kulit tipis dan daging yang tebal. Varietas buah lainnya yaitu kelengkeng, durian pelangi dari Papua, jambu, pepaya yang layak ekspor.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan varietas buah-buahan ini harus didorong pengembangannya dengan berkolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang telah berhasil mengembangkan bibit buah nusantara di Subang.

“Semoga nanti bisa dikembangkan bibit buah nusantara di Blora. Masyarakat Blora yang lain juga diharapkan bisa mengembangkan hal yang sama,” kata Nasir saat melakukan kunjungan ke kebun buah yang terletak di desa Tunjungan, Blora

Hal lain yang perlu dikembangkan menurut Nasir adalah saat pasca panen, bagaimana agar hasil panen buah tidak cepat membusuk. Ia mencontohkan penggunaan sistem ozonisasi yang kini sudah mulai digunakan untuk mengawetkan hasil pertanian. Selain itu, hasil panen diharapkan dapat berkontribusi memenuhi kebutuhan buah di dalam negeri, minimal di daerah Blora.

“Kita sudah mengembangkan bibit buah nusantara dengan IPB. Ini harus didorong terus supaya buah nusantara bisa disuplai dari dalam negeri. Syukur bisa diekspor,” ujar Nasir.

Pada kesempatan yang sama Nasir juga menyambangi pos inseminasi buatan di Tunjungan untuk melakukan inseminasi buatan terhadap sapi lokal.

Dia juga memberikan arahan kepada kelompok tani peternak sapi Desa Palon di Blora mengenai cara mengelola peternakan sapi dari hulu sampai hilir. Dia berharap peternak sapi dapat belajar dari PT. Karya Anugerah Rumpin (KAR), perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan dan penggemukan sapi.

“Kita akan membantu dalam hal pengembangan teknologi. Misalnya dalam pengelolaan limbah kotoran sapi dengan menggunakan teknologi sehingga menghasilkan nilai tambah,” pungkasnya.

Dalam kunjungan tersebut Nasir didampingi oleh Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe, CEO PT. KAR Karnadi Winaga, Direktur Inovasi Santoso Yudo Warsono, dan Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Retno Sumekar. [mrb]

Continue Reading

Art and Science

Diresmikan, Bandung Creative Hub – Wadah Anyar, Menampung Aneka Kreativitas

Published

on

EDUPUBLIK.COM, Bandung – Keberadaan gedung mencolok dan “aneh” ini cukup lama. Padahal kondisinya serba baru, warna-warni dari luar tampak jreng. Seiring bergulirnya waktu, gedung yang terletak di persimpangan Jalan Laswi dan Jalan Sukabumi Kota Bandung, menurut pengelolanya dibuat untuk menampung aneka kreativitas warga. Masa iya ?

photo credit: Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung, resmikan Gedung Bandung Creative Hub / dok. Akbar

Masih seturut waktu, rasa penasaran warga utamanya yang lalu- lalang di sekitarnya., semoga saja sirna. Hari itu (28/12/2017) secara resmi dibuka untuk publik, namanya Bandung Creative Hub (BCH).

Penjelasan dari pengelolanya, BCH dilengkapi aneka peralatan dan fasilitas demi mengakomodasi kebutuhan pelaku industri kreatif di Bandung. Semua peralatan ini disediakan oleh Pemerintah Kota Bandung.

“Bandung sudah terkenal dengan anak mudanya yang kreatif,” papar Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung.

“Untuk menjadikan kreativitas ini sebuah kekuatan, sebuah identitas, kita perlu sebuah tempat di mana semua potensi kreativitas itu dapat berkumpul,” lanjut Emil sapaan Ridwan Kamil.

Masih kata Emil lagi yang hari itu tampak sumringah di BCH:”Anak-anak muda tinggal bawa gagasan ke tempat ini, berkarya dengan memanfaatkan peralatan yang ada, bertemu sesama orang kreatif, juga memamerkan hingga menjual karyanya.”

Kenny Dewi Kaniasari, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, dalam kesempatan ini, turut memaparkan: “Bentuk pengelolaan BCH saat ini merupakan UPT, dengan fasilitas seperti ruang-ruang kelas, perpustakaan, cafe, toko desain, galeri, bioskop, dan workshop atau studio yang dilengkapi berbagai peralatan untuk berbagai sub-sektor, seperti fotografi, animasi, game, desain, musik, fashion, dan lain-lain.”

Gedung BCH ini, terdiri dari lima lantai ditambah dengan basement dan rooftop, yang memuat ruang-ruang dengan berbagai fungsi. Di lantai dasar terdapat cafe dan toko desain; di atasnya terdapat pelataran berjenjang yang dapat berfungsi sebagai tempat pertemuan dan kerja bersama, cafe, perpustakaan, dan ruang pengelola gedung. Di lantai-lantai berikutnya terdapat ruang teater dengan layar lebar dan panggung yang dapat digunakan untuk screening film, seni pertunjukan dan fashion show.

Masih kata Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, Gedung Bandung Creative Hub menjadi satu fasilitas yang disediakan pemerintah untuk menampung energi anak-anak muda di kota Bandung, “Karena anak muda Bandung penuh dengan ide dan inovasi,” ujarnya.

photo credit: Kenny Dewi Kaniasari, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung / dok. Akbar

“Diharapkan dari gedung ini, lahir inovasi-inovasi yang spektakuler, dan bisa membawa nama kota Bandung baik di tingkat nasional maupun internasional,” tegas Kenny Dewi Kaniasari, “Nantinya kita akan senang apabila lulusan-lulusan Bandung Creative Hub diakui dunia luar,” ungkapnya.

Ada Museum Desain Mini?

Dalam kesempatan berkeliling ke gedung BCH, ditemukan pula galeri seni, studio audio, studio produksi dan pasca produksi karya-karya digital seperti game dan animasi, ruang fotografi, ruang produksi desain dengan printer 3D, laser cutter. Sementara itu ada fasilitas ruang kelas untuk workshop, pelatihan, atau pertemuan. Masing-masing ruang ini, dilengkapi peralatan dan fasilitas sesuai dengan peruntukannya.

Fasilitas lainnya, ada sebuah ruangan yang difungsikan sebagai kantor bersama, dan tempat pertemuan lintas sub-sektor industri kreatif seperti Forum Desain Bandung. Disini sudah ada desainer profesional yang telah tergabung dalam asosiasi Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII), Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), dan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI).

Di gedung BCH terdapat pula sebuah ruang pertama kali ada di Indonesia, yaitu Bandung Design Archive (BDA). Ini semacam “museum desain mini” yang memuat berbagai arsip dan dokumentasi desain, terutama di Kota Bandung. Katanya, pengelolanya masih terus aktif mengarsipkan berbagai data desain, terutama dalam format digital.

Umum Boleh Pakai?

Dalam fungsinya, gedung BCH terbuka untuk komunitas, mahasiswa, dan masyarakat umum. Tris Avianti, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, memaparkan “Ruang dan fasilitas yang ada di BCH beberapa akan dikelola oleh asosiasi profesi terkait. Ada ruang-ruang yang merupakan area yang dapat diakses bebas oleh publik, seperti cafe, perpustakaan, dan galeri.”

Masih kata Tris yang memberi penekanan khusus:”Untuk ruang-ruang dengan peralatan khusus hanya dapat diakses oleh anggota atau yang berkepentingan.”

“Standar prosedur operasional, mekanisme pemakaian ruang dan alat, dan hal-hal mendetail lainnya, akan kami sampaikan segera setelah semuanya siap,” beber Tris yang sedang mempersiapkan tata-cara penggunaan demi kelancaran semua pihak yang beminat menggunakannya.

Bandung Kota Desain

Konektisitas dengan status Bandung yang telah ditahbiskan sebagai Kota Desain, ini menyangkut kedudukan sebagai anggota dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/ UCCN) sejak 11 Desember 2015, Tita Larasati, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung menjelaskan:“Keberadaan BCH merupakan salah satu wujud komitmen Kota Bandung terhadap jejaring UCCN. Pemerintah secara nyata mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui sinergi dengan pihak-pihak asosiasi profesional, komunitas, dan akademisi.”

Masih kata Tita, Kota Bandung memiliki sudut pandang tersendiri sebagai salah satu dari 31 Kota Desain UCCN yang berasal dari 25 negara. Dalam hal ini Fiki Satari, Ketua Tim Manajemen Dossier Bandung untuk UCCN, yang juga menjabat sebagai Ketua Indonesia Creative Cities Network (ICCN), menegaskan, “Arti Desain bagi Bandung dalam UCCN bukan hanya merujuk pada obyek dengan kualitas estetik tertentu, melainkan desain sebagai cara berpikir, dan alat untuk mendapatkan solusi nyata bagi berbagai permasalahan lokal.”

Semoga untuk warga Kota Bandung yang tadinya, merasa aneh dengan keberadaan gedung BCH, yang kerap berseloroh “teu puguh bentuk”. Kini, semakin jelas, ternyata ini untuk menampung segala ide bernas kekinian, khususnya dari kalangam muda. Boleh tuh dijajal ? [HS/SA]

Continue Reading

Terpopuler