Connect with us
data-ad-client="ca-pub-5380071771854709" data-ad-slot="4198541131" data-ad-format="auto" data-full-width-responsive="true">

Ekonomi

Karyawan dan Pilot Garuda Minta Jokowi Ganti Direksi Perusahaan

photo credit: ketua umum sekarga Ahmad Irfan saat konferensi pers di restoran bumbu desa, jakarta (23/1)/foto. dade

EDUPUBLIK.COM, Jakarta – Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia (Persero) tbk, yang terdiri dari serikat karyawan garuda (sekarga) Bersatu dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) meminta kepada Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo dan Menteri BUMN Rini Soemarno memangkas jumlah direksi perseroan dari sembilan orang menjadi enam orang.

“Restrukturisasi anggota direksi perusahaan sangat perlu dilakukan demi menekan bengkaknya biaya dan hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam melakukan efisensi,” ujar Ketua Umum Sekarga Ahmad Irfan, dalam Konferensi Persnya di Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Selain itu, Irfan meminta kepada menteri BUMN agar mengevaluasi kinerja direksi saat ini dan melakukan pergantian, dan mengutamakan direksi yang profesional yang berasal dari internal perseroan.

Terkait dengan kondisi hubungan industrial saat ini, Dia mengatakan, tidak harmonis karena perusahaan banyak melakukan pelanggaran terhadap Perjanjian Kerja Bersama/Perjanjian Kerja Profesi yang sudah disepakati sehingga banyak menimbulkan perselisihan.

Sehingga, lanjutnya, terjadi penurunan kinerja operasional Garuda Indonesia yang berdampak pada penundaan dan pembatalan penerbangan.

“Yang paling signifikan terjadi pada Desember pada masa puncak liburan dan kondisi ini sangat merusak citra baik perusahaan (on-time performance),” kata irfan.

Dia menuturkan, kinerja keuangan perusahan plat merah itu sampai dengan kuartal III-2017 semakin merosot dengan kerugian USD 207,5 juta.Di mana peningkatan pendapatan hanya sebesar 8,6 persen sementara peningkatan biaya sebesar 12,6 persen (Data Analyst Meeting Q3 2017)

Sementara, nilai saham Garuda per 19 Januari 2018 per lembar hanya Rp 314. Mengalami penurunan sebesar 58 persen dari nilai saham pada saat IPO. [dade]

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekonomi

Jokowi: OJK Harus Mengeluarkan Taringnya

Published

on

photo credit: Presiden Joko Widodo (Jokowi)/via: facebook

EDUPUBLIK – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) jangan sampai “mandul” dan “masuk angin” serta harus mengeluarkan taringnya dalam mengawasi industri jasa keuangan.

“Transaksi keuangan yang menjurus ke fraud harus ditindak tegas. Pengawasan OJK juga tidak boleh mandul, tidak boleh masuk angin, harus mengeluarkan taringnya, dan menjaga kredibilitas dan integritas. Ini sangat penting,” kata Presiden Jokowi secara virtual dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2021 di Jakarta.

Presiden Jokowi mengingatkan bahwa OJK dan pelaku industri jasa keuangan harus menjaga kepercayaan pelaku pasar dan masyarakat umum. Hal itu ditempuh dengan memastikan tidak ada lagi praktik industri keuangan yang merugikan masyarakat.

“Kita harus membangun sebuah sistem internal yang baik, membangun sebuah sistem yang berstandar internasional sehingga meningkatkan kepercayaan dunia internasional pada industri jasa keuangan kita,” ujarnya.

Di sisi lain, Presiden mengapresiasi kerja sama yang erat antara OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan LPS dalam mempercepat pemulihan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19 sejak 2020.

“Kemarin kerja sama antara pemerintah, Kemenkeu, OJK, BI, LPS, berjalan beriringan dengan baik. Setiap masalah selalu direspons dengan cepat, dan untuk tahun ini pemerintah ingin agar kerja sama itu bisa dilanjutkan,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden menyatakan berbagai kebijakan untuk menopang perekonomian pada 2021 telah disiapkan, terutama dengan telah rampungnya Undang-Undang Cipta Kerja. Dengan penerapan aturan perundang-undangan terbaru itu, diharapkan kegiatan dan produk ekonomi Indonesia akan semakin kompetitif di pasar global.

“Kita juga bersyukur UU Cipta Kerja telah diundangkan dan peraturan turunannya, PP atau Perpres, segera terbit dalam waktu secepatnya, agar kita semakin kompetitif di pasar, utamanya di pasar global,” kata Presiden Jokowi. [rzy/ant]

Continue Reading

Ekonomi

Harga Tahu dan Tempe Naik 10 persen

Published

on

ilustrasi: tempe dan tahu kedelai/via: facebook

EDUPUBLIK – Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat memastikan produk tahu dan tempe telah tersedia di pasar-pasar Jakarta Barat meski harga jualnya lebih tinggi 10-20 persen dibanding sebelum aksi mogok produsen tahu dan tempe yang berlangsung empat hari.

“Dari hari Senin ketersediaan tahu dan tempe hasil pemantauan sudah tersedia, namun dengan penyesuaian harga baru,” ujar Kepala Sudin KPKP Iwan Indriyanto di Jakarta, (6/1).

Iwan mengatakan terdapat kenaikan harga pada tempe dari Senin sekitar 20 persen dari harga awal, akibat lonjakan bahan baku kedelai. Demikian pula dengan harga tahu yang naik sekitar 10-20 persen dari harga jual biasanya.

Pantauan ketersediaan tahu dan tempe tersebut dilakukan pada Minggu (3/1) hingga Selasa (5/1) di sejumlah pasar tradisional diantaranya Pasar Slipi Palmerah, Pasar Ganefo Kalideres, Pasar Pos Pengumben Kebon Jeruk, Pasar Kemiki Kembangan dan Pasar Tomang Barat Grogol Petamburan. [rzy/ant]

Continue Reading

Ekonomi

Cabai Keriting Di Sumsel Tembus Rp 100.000/Kg

Published

on

ilustrasi credit: cabai merah jateng/via: facebook

EDUPUBLIK – Harga cabai merah keriting di sejumlah pasar tradisional Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, menembus angka Rp100.000 per kilogram, naik dari sebelumnya yang di kisaran Rp60.000/Kg.

“Ya, sekarang harga cabai merah keriting melonjak tajam,” kata Jauya, seorang pedagang cabai di Pasar Atas Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), (6/1).

Menurut Jauya, kenaikan harga yang terjadi sejak beberapa hari terakhir tersebut karena agen pemasok dari Pulau Jawa mematok harga tinggi sehingga pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual agar tidak merugi.

“Sebenarnya harga cabai naik turun sejak sebelum Natal 2020. Terakhir sempat mencapai Rp90.000/kg turun menjadi Rp60.000/kg dan kini tembus Rp100.000 per kilogram,” katanya.

Selain modal agen tinggi, kata dia, kenaikan harga tersebut juga disebabkan permintaan cabai dari masyarakat cukup tinggi untuk kebutuhan hajatan.

Hal tersebut berdampak pada stok cabai di pasar menipis karena pedagang kesulitan mendapat barang untuk dijual.

Selain itu, lanjut dia, kenaikan harga juga berdampak pada omzet pedagang menurun drastis karena sebagian besar masyarakat membeli cabai dalam jumlah sedikit.

“Biasanya rata-rata terjual 50-60 kilogram/hari. Namun, sejak harga naik paling sekitar 30 kilogram cabai terjual setiap hari,” kata Yuni, pedagang lainnya menambahkan.

Sementara itu Pipit, warga Baturaja mengaku membeli cabai merah keriting dalam jumlah sedikit karena harganya mahal. “Terpaksa mengurangi jumlahnya saja untuk kebutuhan dapur karena harganya mahal,” kata dia. [rzy/ant]

Continue Reading

Terpopuler