Connect with us

EDUKASI

Kemendikbud: Mengajarkan Baca Tulis Hitung di Usia PAUD Berbahaya

Edupublik.com, Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktur Pembinaan PAUD Ditjen PAUDNI-Dikmas menyatakan Bahaya mengajarkan membaca, menulis dan berhitung di usia PAUD.

“Kita tahu banyak PAUD yang menerapkan calistung (Baca Tulis Hitung) karena tuntutan dari orangtua, seharusnya para guru menyampaikan kepada orangtua bahwa anak usia PAUD tidak seharusnya dibebankan membaca dan berhitung,” ujar Direktur Pembinaan PAUD Ditjen PAUDNI-Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ella Yullaaelawati, di Jakarta (20/1/2017).

Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, calistung tidak diperbolehkan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Sebab, idealnya anak-anak murid siswa pada usia PAUD hanya dikenalkan huruf dan angka tanpa harus dipaksa membaca dan berhitung.

“Bukan masalah calistungnya, tapi bagaimana cara mengenalkan membaca dengan memberi stimulasi halus motoriknya”, ungkap Ella.

Pada aturan hukum yang diatur dalam Permendiknas RI No. 58 TAHUN 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, ada 4 tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung bagi anak usia 4-6 tahun, yakni dengan pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung dan Membaca nama sendiri serta menuliskan nama sendiri.

Berdasarkan Permendiknas ini, kemampuan tertinggi yang diharapkan dari anak murid lulusan TK adalah membaca dan menulis namanya sendiri. Ini pun cukup nama pendek, sekedar mengenali namanya dan memberi nama lembar kerjanya.

Untuk mendukung aturan ini, Dirjen Dasmen mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Nomor 1839/C.C2/TU/2009 Perihal: Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar.

Kriteria siap masuk SD di antaranya adalah aspek sosial seperti tidak takut bertemu dengan orang baru, kemudian kemandirian seperti berani ke toilet sediri, memasang tali sepatu, dan sejenisnya.

’’Kalau sebatas dikenalkan ingin angka satu, angka dua, masih wajar. Tetapi kalau sudah penjumlahan, pengkalian, dan pembagian, itu sudah berlebihan,’’ tuturnya.

Ella juga memberikan panduan untuk memilih lembaga TK yang ideal. Diantaranya adalah memastikan TK itu terdapat di data pokok pendidikan (dapodik) Kemendikbud.

Kemudian melihat keragaman APE dan permainan outdoor-nya untuk keamanan anak-anak dan pastikan wahanan permainan untuk anak-anak. [rs]

Baca selanjutnya
Comodo SSL
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EduOto