Connect with us

Edu Tekno

Krisis Lahan Subur, BPPT Dorong Masyarakat Konsumsi Pangan Selain Beras

photo credit: Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologin (TAB-BPPT) Soni Solistia Wirawan, saat acara "Ketahanan Pangan Dengan Rekayasa Teknologi Pangan Non Beras", di Jakarta, (6/6)/dok. dade

EDUPUBLIK.COM, JAKARTA – Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) BPPT mengatakan dalam rangka mengatasi ketersediaan pangan pokok, sejak tahun 2015 mengembangkan beras non padi yang berasal dari sumber karbohidrat yang tersedia di negeri ini.

“Sumber karbohidrat yang dimaksud adalah sumber karbohidrat yang berasal dari bahan non padi seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, sorghum dan sagu,” ujar Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologin (TAB-BPPT) Soni Solistia Wirawan, saat acara “Ketahanan Pangan Dengan Rekayasa Teknologi Pangan Non Beras”, di Jakarta, (6/6/2018).

Dia mengatakan, segala upaya dan sumberdaya yang tersedia dikerahkan untuk menyediakan beras guna mencukupi kebutuhan pangan bangsa Indonesia yang berjumlah 250 juta jiwa lebih.

“Namun kita sadar untuk menyediakan beras 40 juta ton bukan perkara mudah, karena saat ini menghadapi beberapa keterbatasan seperti terbatasnya lahan subur, terbatasnya sumber air, rusaknya saluran air irigasi terbatasnya tenaga kerja petani, dan yang tidak kalah pentingnya adalah adanya perubahan iklim global yang berdampak terhadap penyediaan beras di negeri ini,” kata Dia.

Dia mengatakan, pangan karbohidrat non padi tersebut sebelumnya merupakan bahan pangan di daerah-daerah tertentu yang secara agroklimat tanaman padi kurang dapat tumbuh baik. Pangan karbohidrat non padi tersebut sering di sebut sebagai pangan lokal.

“Masyarakat daerah tertentu sudah terbiasa mengkomsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidratnya, namun keberadaan beras yang melalui program swasembada beras sangat berhasil menggeser keberadaan pangan lokal tersebut,” katanya.

Dia menuturkan, negara dan bangsa yang hanya menghandalkan pada satu bahan pokok saja akan mengalami goncangan politik maupun ekonomi manakala ketersediaan pasokan pangan pokoknya terganggu.

Penyediaan pangan pokok non padi, lanjutnya, menjadi salah satu solusi. Mengingat masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengkonsumsi nasi dari beras maka melalui rekayasa teknologi bahan pangan lokal tersebut dibuat menyerupai bulir padat.

“Dengan membentuk bulir seperti beras maka diharapkan ketersediaan beras non padi dapat diterima oleh konsumsi di negeri ini,” katanya.

Dia mengungkapkan, data yang diperoleh dari Outlook Pangan Karbohidrat menyebutkan bahwa pada tahun 2015 di Indonesia ini terdapat 7 Provinsi yang mengalami difisit neraca beras padi.

“Ketujuh Provinsi tersebut adalah Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari ke 7 Provinsi tersebut defisit berasnya mencapai 1,4 juta ton,” tandasnya. [dade]

EDUPUBLIK- BERITA TERBARU INDONESIA, DUNIA DAN PENDIDIKAN

Comodo SSL
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EduOto