Connect with us
data-ad-client="ca-pub-5380071771854709" data-ad-slot="4198541131" data-ad-format="auto" data-full-width-responsive="true">

Edu Health

Milna Memperkenalkan MPASI Organik Kaya Nutrisi untuk Tumbuh Kembang Bayi di Masa Pandemi

photo credit: Head of Medical KALBE Nutritionals dr Muliaman Mansyur/dok

EDUPUBLIK – Si Kecil adalah buah hati tumpuan harapan dan impian setiap orang tua. Untuk mewujudkannya, orang tua selalu memberikan yang terbaik untuk Si Kecil, dimulai dari asupan nutrisinya, lingkungan serta stimulasi untuk melatih motorik Si Kecil, agar mereka tumbuh berkembang dengan optimal.

Seiring pertumbuhan bayi, kebutuhan nutrisi juga ikut berkembang. Setelah berusia enam bulan, ASI untuk bayi perlu mulai dilengkapi Makanan Pendamping ASI (MPASI). WHO menganjurkan bayi mulai mengonsumsi MPASI berupa makanan solid dan halus agar nutrisinya memadai bagi pertumbuhan tubuh dan otak. MPASI ini idealnya harus kaya nutrisi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan di 1000 hari pertama.

Bunda dapat memberikan MPASI kepada Si Kecil dengan variasi rasa, bentuk dan bahan. Selain itu, direkomendasikan juga agar Bunda bisa memberikan MPASI yang terbuat dari bahan organik, yaitu makanan yang diproses secara alami. MPASI Organik dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil sekaligus memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mendorong perkembangan koginitifnya. Makanan organik juga dapat mengurangi obesitas atau kelebihan berat badan, mencegah penyakit menular dan mengurangi risiko terkena penyakit kronis pada jangka panjang kehidupan Si Kecil.

Head of Medical KALBE Nutritionals dr Muliaman Mansyur lebih jauh menjelaskan mengapa nutrisi organik yang dikonsumsi Si Kecil sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya.

“Bahan organik bisa menjadi salah satu pilihan untuk Si Kecil, karena makanan organik tersebut berasal dari pertanian yang diproses secara alami dan natural sehingga  baik untuk ekosistem, juga memiliki antioksidan yang lebih banyak bagi kesehatan Si Kecil,” papar dr Muliaman Mansyur.

Melengkapi kebutuhan nutrisi bayi pada momen makan pertama, Milna, ahlinya makanan bayi selama lebih dari 30 tahun, kini menghadirkan Milna Nature Puffs Organic, camilan sehat berbahan organik yang tinggi kalsium, bebas gluten, dan menjadi sumber zat besi untuk melengkapi kebutuhan gizi harian Si Kecil.

Sejak hadir di pasaran, Milna Nature Puffs Organic ini langsung menarik perhatian para ibu, termasuk para selebgram yang melengkapi pola makan bayinya dengan camilan sehat ini.

Khususnya di masa pandemi saat persediaan bahan makanan organik semakin langka dan sulit didapat, Milna Nature Puffs Organic  menawarkan alternatif camilan sehat untuk Si Kecil yang mudah didapat.
 
Ditemui di kantornya, Christofer Samuel Lesmana, Business Unit Head for Baby and Kids Food Category KALBE Nutritionals menjelaskan kehadiran produk terbaru Milna Nature Puffs Organic untuk melengkapi kebutuhan nutrisi anak Indonesia. “Milna Nature Puffs Organic mengandung 95% bahan makanan organik. Dibuat dari beras hasil metode agrikultur ramah lingkungan, non GMO (genetically modified organism) yang terjamin kualitas nutrisinya. Milna Nature Puffs Organic juga bebas gluten, kaya zat besi dan tinggi kalsium, serta sama sekali TIDAK MENGANDUNG PENGAWET, PEMANIS BUATAN, PENGUAT RASA dan PEWARNA SINTETIS,” ungkap Christofer Samuel Lesmana.
 
Tak hanya dilengkapi nutrisi seimbang, Milna Nature Puffs Organic dirancang untuk menstimulasi sensor motorik Si Kecil. Berbentuk hati yang mungil, Milna Nature Puffs Organic menyesuaikan dengan ukuran tangan Si Kecil sehingga sang buah hati pun leluasa untuk mencubit dan mengambil benda kecil di sekitarnya. Lebih jauh lagi, pemberian makanan kecil yang sesuai dengan tangan Si Kecil, atau dikenal dengan finger food adalah cara yang dianjurkan untuk mendukung koordinasi antara mata dan tangan Si Kecil, mengembangkan kemampuan menjepit dan mencengkeram, serta keterampilan mengunyah. Pemberian finger food merupakan stimulasi yang tepat untuk merangsang pertumbuhan dan mengaktifkan panca indra Si Kecil.
 
“Kami paham bagaimana tiap orang tua memiliki impian dan harapan besar bagi buah hatinya. Harapan itu mereka wujudkan dengan memastikan anak-anak mereka mendapat nutrisi terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan. Selama ini kami memiliki produk organik pada Milna Bubur Bayi Organik, Kini dengan Milna Nature Puffs Organic, Si Kecil bisa memiliki camilan sehat organik untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Selain itu, di tengah wabah COVID-19, Bunda tidak perlu khawatir untuk memberikan asupan nutrisi untuk Si Kecil, karena Milna mudah ditemukan dimana pun, baik di toko general trade, modern trade maupun di Official Stores Milna di e-commerce,” ungkap Christofer.
 
Di tengah pandemi dan merebaknya fenomena gerakan #workfromhome dan #dirumahaja akibat serangan wabah Virus Corona, Milna mengajak orang tua yang memiliki anak balita untuk #dirumahbarengMilna dengan menyediakan Milna Nature Puffs Organic bagi Si Kecil. Sehingga, meskipun tetap di rumah, perkembangan motorik Si Kecil tetap dirangsang dengan makan dan mencubit benda-benda kecil.
 
“Di saat social distancing dan physical distancing seperti ini, orang tua perlu dukungan menyiapkan nutrisi Si Kecil. Di sinilah kesempatan sebagai orang tua mengoptimalkan makanan organik bagi buah hati kita. Jika dibiasakan dengan pola makan makanan seperti MPASI organik, Si Kecil bisa membangun kekebalan tubuh lebih baik untuk melawan berbagai serangan penyakit, tak terkecuali Covid-19. Tentunya MPASI Milna Organik berharap bisa membantu seoptimal mungkin dan selalu menjadi sahabat tiap orang tua para balita di masa sulit ini,” tutupnya. [fz]

Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edu Health

Negara Miskin Sulit Mendapatkan Akses Vaksin

Published

on

EDUPUBLIK – Negara-negara miskin akan tertinggal enam hingga delapan bulan di belakang negara yang lebih kaya dalam mendapatkan akses ke vaksin COVID-19 untuk melindungi populasi mereka terhadap pandemi, demikian menurut filantropi Bill Gates.

Dalam wawancara dengan Reuters, Gates menyebut peluncuran vaksin COVID-19 pertama sebagai “masalah distribusi yang sulit dan memberi tekanan pada lembaga global, pemerintah, dan pembuat obat. “

“Setiap politisi berada di bawah tekanan untuk mengajukan tawaran agar negara mereka bisa berada di urutan atas dalam antrean (pasokan vaksin),” kata Gates, Rabu (27/1).

Yayasan Bill dan Melinda Gates sejauh ini telah berkomitmen sebesar 1,75 miliar dolar AS (sekitar Rp24,7 triliun) untuk tanggapan global terhadap pandemi COVID-19, termasuk dana untuk inisiatif berbagi vaksin, COVAX, yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan didukung oleh sejumlah produsen vaksin.

COVAX, yang dipimpin oleh aliansi vaksin GAVI, bertujuan untuk memberikan 2,3 miliar dosis vaksin COVID-19 hingga akhir tahun, termasuk 1,8 miliar dosis ke negara-negara miskin secara gratis. Fasilitas ini berharap dapat memulai pengiriman bulan depan.

Gates mengatakan pasokan vaksin melalui COVAX akan “sedang” pada awalnya.

“Jumlah total dosis yang akan dimiliki GAVI (dan COVAX) pada paruh pertama tahun ini masih sangat sedang. Ya, mereka akan mendapatkan beberapa dosis, tetapi jika Anda membandingkan kapan mereka akan mencapai persentase cakupan yang sama dengan negara kaya—di situlah menurut saya enam sampai delapan bulan, berdasarkan skenario terbaik,” kata dia.

CEO GAVI dan pemimpin bersama COVAX, Seth Berkley, memperingatkan adanya “kepanikan vaksin” dengan banyak negara mengejar kesepakatan bilateral dengan para produsen obat untuk mengamankan pasokan vaksin bagi mereka, bahkan mengancam mengambil langkah hukum jika pasokan terlambat.

Gates mengatakan tekanan seperti itu tidak membantu, mengingat perusahaan farmasi seperti Pfizer, BionTech, AstraZeneca, dan Moderna semuanya mengembangkan vaksin COVID-19 dalam waktu kurang dari setahun.

“Jika Anda adalah perusahaan farmasi yang tidak membuat vaksin, Anda tidak berada di bawah tekanan. Tetapi orang-orang yang membuat vaksin—merekalah yang diserang,” kata Gates.

“Ini adalah situasi klasik dalam kesehatan global, dimana para pendukung tiba-tiba menginginkan vaksin dengan harga nol dolar dan segera. Dan saya merasa seperti perusahaan farmasi yang terjun, ya… merekalah alasan kita dapat melihat akhir dari epidemi,” Gates menambahkan.

Gates, yang pada Rabu (27/1), menerbitkan laporan tahunan yayasannya yang menguraikan prioritas dan prediksinya, mengatakan dia yakin orang-orang yang tinggal di negara-negara kaya akan melihat pandemi berakhir, dengan kembali ke kehidupan yang lebih normal, pada akhir tahun ini, dengan asumsi vaksin dapat diluncurkan ke sekitar 70 persen hingga 80 persen populasi mereka.

Dia juga menunjuk pada beberapa “optimisme” dari pandemi, termasuk pengembangan teknologi vaksin mRNA yang sangat dipercepat yang digunakan dalam vaksin produksi Pfizer-BioNtech dan Moderna.

Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, kata Gates, vaksin mRNA akan menjadi lebih cepat dan lebih murah untuk dikembangkan, lebih mudah diukur, dan lebih stabil untuk disimpan,. Pengembangan vaksin jenis ini membuka peluang di masa depan untuk melawan penyakit seperti HIV dan malaria.

“Ini membawa harapan baru bagi vaksin yang belum ada—bahwa kita bisa mendapatkannya lebih cepat,” kata Gates. [reuters]

Continue Reading

Edu Health

52 Pasien Positif COVID-19 Di Jambi Sembuh

Published

on

grafik: diskominfo prov. Jambi/via: facebook

EDUPUBLIK – Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Jambi, Johansyah selaku Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19 Provinsi Jambi menyatakan 52 orang pasien positif COVID-19 di Jambi telah sembuh, sehingga total pasien yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 2.934 orang.

“Pemerintah pusat hari ini mengumumkan 52 orang pasien sembuh,” kata Johansyah di Jambi, (24/1).

Sebanyak 52 orang pasien sembuh tersebut tersebar di enam kabupaten dan kota di Provinsi Jambi, dengan rincian 21 orang asal Kabupaten Bungo, 15 orang asal Kota Jambi, lima orang asal Kabupaten Batanghari, dua orang asal Kabupaten Tebo, dua orang asal Kabupaten Muaro Jambi dan satu orang Kabupaten Kerinci.

Selain terdapat pasien yang sudah dinyatakan sembuh, juga terdapat pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19. Ada 52 orang pasien yang dinyatakan terkonfirmasi positif COVDI-19 pada minggu, (24/1).

Dengan penambahan orang yang terkonfirmasi positif tersebut, maka jumlah pasien yang terkonfirmasi positif di Provinsi Jambi menjadi 3.946 orang.

Pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 tersebut tersebar di empat kabupaten dan kota, diantaranya 36 orang di Kota Jambi, 10 orang di Kabupaten Tanjab Barat, empat orang di Kabupten Tebo dan dua orang di Kabupaten Bungo.

“Sehingga pasien yang saat ini masih menjalani perawatan berjumlah 946 orang yang menjalani perawatan di rumah sakit yang telah ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan pasien COVID-19 di Jambi,” kata Johansyah.

Johansyah selaku Juru Bicara Satgas COVID-19 Provinsi Jambi mengimbau masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan COVID-19, menjaga jarak, mencuci tangan dan wajib menggunakan masker saat berada di rumah dan saat melakukan aktifitas di luar rumah. [ant]

Continue Reading

Edu Health

75 Persen Pelanggar Protkes Tidak Memakai Masker

Published

on

ilustrasi/courtesy of twitter

EDUPUBLIK – Sebanyak 75 persen pelanggaran protokol kesehatan (protkes) selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Kota Surabaya, Jawa Timur, yang berlangsung 11-21 Januari 2021 didominasi warga tidak memakai masker.

“Kemudian, sekitar 15-20 persen ada di kerumunan dan sisanya terkait interaksi,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya Eddy Christijanto di Surabaya, Jumat (22/1).

Sedangkan terkait kafe dan restoran, lanjut dia, pelanggaran yang ditemukan adalah terkait dine in atau makan di tempat sekitar 25 persen.

“Jadi masih ada kafe atau restoran yang melebihi dine in 25 persen. Bahkan, ada yang 50 persen dan lebih. Kalau kita temukan di lapangan kita tindak,” katanya.

Satpol PP sendiri sudah tercatat warga yang melakukan pelanggaran mencapai 650 orang, Badan Penanggulangan Bencana (BPB) dan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Surabaya juga mencapai sekitar 600 orang.

“Di kecamatan, laporan terakhir itu juga pelanggar prokes sekitar rata-rata 300-an,” kata Eddy.

Berdasarkan catatan itu, Eddy menilai bahwa terkait dengan pemakaian masker, masyarakat masih terlihat abai. Terutama saat berada di kampung-kampung dan fasilitas publik, sedangkan di pusat perbelanjaan atau mal, masyarakat relatif lebih disiplin memakai masker.

“Cuma yang di restoran ini kita juga edukasi agar buka masker saat makan, selesai makan tolong dipakai lagi maskernya. Itu yang sering kita ingatkan kepada mereka. Ketika selesai makan, mereka ngobrol ini tidak pakai masker. Nah ini yang kita ketati juga,” katanya.

Untuk itu, lanjut dia, di sisa penerapan PPKM ini, pihaknya akan lebih tegas kepada setiap pengunjung kafe dan restoran yang terlihat melepas masker ketika nongkrong ataupun selesai makan.

“Kemarin masih kita tolerir. Sekarang ini di kafe atau restoran setelah selesai makan mereka wajib pakai masker, kalau tidak ya akan kita akan lakukan penindakan, apapun alasannya,” ujarnya.

Tak hanya itu, kata dia, penindakan juga diberikan kepada warga yang tidak menjaga jarak atau mengadakan kerumunan sebab banyak masyarakat yang masih tidak menjaga kerumunan dan tidak menjaga jarak saat beraktivitas.

“Mereka menganggap pakai masker itu selesai, tapi mereka tidak menjaga kerumunan masih berdekatan, jaraknya kurang dari satu meter. Itu yang juga kita tindak,” katanya. [rzy]

Continue Reading

Terpopuler