Connect with us

OPINI

Nasionalisme Era Digital: Pencegahan Penyebaran Paham Radikalisme dan Terorisme Melalui Internet

photo credit/ILUSTRASI: bom guncang surabaya/foto source: bbc indonesia/getty image/humas pemkot/a pinaria

Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat untuk mencintai dan setia bangsa dan negara.

Nasionalisme juga mengandung arti kebersamaan, persatuan-kesatuan, dan demokrasi untuk kemakmuran yang berkeadilan.

Menurut James G. Kellas (1998: 4), nasionalisme merupakan suatu bentuk ideologi. Sebagai suatu ideologi, nasionalisme membangun kesadaran rakyat sebagai suatu bangsa serta memberi seperangkat sikap dan program tindakan. Tingkah laku seorang nasionalis didasarkan pada perasaan menjadi bagian dari suatu komunitas bangsa.

Nasionalisme Indonesia terbentuk melalui perjalanan dan pengalaman panjang  berdasar banyak faktor, kesamaan geografis, rumpun, bahasa, ekonomi, religius, dan kondisi senasib sepenanggungan dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing.

Pengalaman batin penderitaan bersama dalam melawan penjajahan melahirkan semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang harus bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka. Semangat yang telah diwariskan oleh para pejuang pendiri bangsa harus kita rawat dan jaga hingga masa-masa mendatang.

Inti dari Nasionalisme Indonesia adalah kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku, ras, etnik, dan agama, saling menghargai dan menghormati perbedaan, menjaga kerukunan.

Nasionalisme Indonesia adalah semangat kebangsaan yang berdasar pada Pancasila dan UUD 1945.

Radikalisme, Terorisme Dalam Kemajuan IT

Radikalisme adalah paham, pemikiran atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan. Radikalisme adalah bibit atau embrio dari teroris.

Terorisme berdasar UU No.15 Tahun 2003 Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Pasal 6, adalah: Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Teroris adalah kejahatan luar biasa yang bergerak secara rapi, terorganisir, melampaui batas-batas negara. Kejahatan besar terhadap kemanusiaan yang dibangun melalui penyesatan-penyesatan dan manipulasi alam berpikir khalayak melalui doktrin-doktrin tertentu, bahkan mereka menggunakan dogma-dogma agama tertentu untuk melakukan penggalangan dan pembenaran atas langkah dan perbuatan mereka.

Kejahatan teroris yang menghalalkan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk menimbulkan suasana rasa takut terhadap kehidupan manusia secara massal dengan modus operandi yang paling umum adalah dengan pengeboman-pengeboman (termasuk didalamnya bom bunuh diri) ditempat-tempat umum dengan sasaran secara acak banyak terjadi diberbagai penjuru dunia. Secara umum korban adalah warga sipil yang tidak berdosa.

Kemajuan teknologi dan informasi menyebabkan Indonesia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia global atau kampung global.

Batas-batas negara yang secara fisik (pos jaga perbatasan dan tentara) tidak lagi mampu membendung derasnya arus informasi yang menerpa kita bangsa Indonesia.

Karena pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, setiap individu dapat mengakses dan berkomunikasi tanpa dibatasi sekat ruang dan waktu dengan individu lain diseluruh dunia.

Efek domino dari kemajuan internet pada akhirnya mempengaruhi berbagai pandangan dan pemikiran, salah satunya adalah dalam bidang sosial politik. Isu-isu dan budaya universal yang ada diseluruh dunia dengan sendirinya akan menjadi isu nasional.

Kemajuan internet menyebabkan pesatnya pertumbuhan komunitas-komunitas dunia maya karena mudahnya berkomunikasi tanpa hambatan geografis untuk membangun hubungan diseluruh dunia.

Hubungan dalam komunitas maya didasarkan pada tekstual informasi dilengkapi dengan gambar, suara, dan bentuk lain dari media digital.

Meski mewakili seseorang yang nyata, namun kehadirannya dalam bentuk video, gambar, foto, tek-teks sangat rentan penipuan.

Karena sangat mungkin tampilan yang ada tersebut adalah identitas palsu atau akun-akun anonim yang menyesatkan.

Penggunaan akun palsu (anonim) dalam dunia maya, baik facebook, twitter, path, instagram, whatsapp, bbm dan lain sebagainya, adalah bentuk penyimpangan yang paling umum.

Internet adalah suatu wilayah yang tak terbatas dan sering tampak tanpa hukum, dalam Cyberpolitics: Citizen Activism in the Age of the Internet (1998) Kevin A. Hill and John E. Hughes, Lanham, MD, menjelaskan secara teori bagaimana internet dapat digunakan siapa saja, civil society, militer dan siapapun, kelompok manapun yang memiliki kepentingan di seluruh dunia, termasuk para pelaku terorisme.

Cegah Dini Ideologi Terorisme

Kejahatan teroris di Indonesia menurut Arsyaad Mbei dalam bukunya Dinamika Baru Jejaring Terror di Indonesia (2014 : 15) tipe terorisme di Indonesia adalah terorisme yang dimotavasi oleh agama (religiously motivated).

Hal tersebut berdasarkan fakta-fakta yang terungkap bahwa para pelakunya adalah penganut ideologi agama yang radikal-ekstrim, dan mereka memperjuangkan ideologi dan pemahaman mereka dengan cara-cara kekerasan.

Padahal ajaran agama khususnya Islam menurut cendikiawan muslim Prof. Nazaruddin Umar, radikalisme dan terorisme sebenarnya tidak ada dalam ajaran Islam. Sebab selama ini Islam tidak menggunakan radikalisme untuk berinteraksi dengan umat beragama yang lain.

Dalam sejarahnya, penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW selalu mengajarkan umatnya untuk bersikap lemah lembut. Penyebaran Islam dilakukan dengan cara santun, memberikan penghormatan kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang memiliki keyakinan berbeda.

Penyebaran paham radikalisme dan terorisme menggunakan segala cara, baik manual maupun digital dengan memanfaatkan internet.

Mereka para kelompok atau organisasi teroris memanfaatkan sosial-kultur mayoritas masyarakat kita yang permisif dan toleran untuk mereka mengeram dan menularkan sel-sel mereka di Indonesia. Kondisi rakyat yang religius, polos, mudah percaya, dimanipulasi dan disesatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.

Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah pola mereka yang meracuni dan merekrut anak-anak muda yang masih polos untuk menjadi martil bagi kejahatan mereka.

Karena itu, untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme melalui internet dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi, kita sebagai bangsa harus senantiasa waspada dan mawas diri. Langkah untuk antisipasi dini dapat kita lakukan dengan metode sebagai berikut :

a. Jangan mudah percaya dengan orang yang baru kita kenal dalam pertemanan di dunia maya karena tidak ada jaminan bahwa identitas mereka sebagai pemberi informasi dalam internet benar-benar jujur, meskipun mereka menggunakan gambar, foto, teks-teks, maupun video yang meyakinkan, akan sangat bijaksana jika kita tidak langsung menganggap bahwa persona online adalah orang yang sama dalam kehidupan nyata.

b. Kurangnya kontak tatap muka, selain melalui kamera video, menyebabkan kita kesulitan untuk mengetahui dan menilai identitas orang lain yang sebenarnya.

c. Karena hubungan dan identitas didasarkan sepenuhnya pada tampilan digital yang mudah direkayasa dan dimanipulasi maka perlu kehati-hatian yang cukup sebelum komunitas maya berhubungan dalam kehidupan nyata atau kopi darat. Harus dilakukan secara bertahap, di mana kita dapat memverifikasi (cek dan ricek) bahwa rincian dan informasi yang diberikan oleh pengguna online jujur sebelum berhubungan dalam  kehidupan nyata.

d. Waspadai dan jangan mudah terpengaruh pemikiran dan paham yang mengajak pada jalan kekerasan dalam kasus sosial politik, isu-isu SARA melalui media internet.

e. Laporkan kepada pihak berwenang jika mendapatkan segala informasi melalui internet yang mencurigakan sebagai penyebar kebencian, paham radikalisme dan terorisme. [ali sodikin]

Baca selanjutnya
Comodo SSL
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Pasangan Jago Debat seperti Rizal Ramli adalah Kunci Kemenangan Pilpres 2019

Published

on

photo credit: rizal ramli (kemeja biru), saat di pasuruan jawa timur/source: facebook rizal ramli

Dalam berbagai kontestasi politik, semacam pilpres, kemenangan telak dalam debat terbuka dapat menyumbang sekitar 30% suara mengambang. Apalagi di saat ketokohan, yang selama ini menjadi andalan, sudah mentok elektabilitasnya.

Menurut rekan kami yang berprofesi sebagai ilmuwan politik sekaligus pollster, elektabilitas “sebenarnya” (tidak merujuk pada publikasi berbagai lembaga survey yang diragukan kredibilitasnya) Jokowi hanya di kisaran 30%, sementara Prabowo hanya di 20%.

Artinya, untuk dapat menang, baik Jokowi maupun Prabowo membutuhkan pasangan yang jago berdebat hingga mampu mendapatkan tambahan 30% suara mengambang di debat terbuka Pilpres tahun depan.

Orang ini tentu harus memiliki kemampuan analisa dan retorika yang di atas rata-rata. Sehingga siapapun lawan debatnya pasti akan dilahap seluruh argumennya tanpa ampun di depan publik.

Jadi Jokowi atau Prabowo sebenarnya tidak membutuhkan seorang santri kharismatik yang banyak pendukungnya, tidak juga pengusaha yang sukses, sebagai pasangan mereka, karena tidak akan dapat membantu mereka di debat terbuka pilpres. Tapi, tokoh santri atau pengusaha sukses ini untuk membantu di belakang, sebagai jurkam atau timses, boleh jadilah.

Lantas, siapa orang tersebut?

Mungkin orang yang lumayan retorikanya yang selama ini dikenal publik adalah Anies Baswedan. Kita semua sudah tahu kualitas beliau saat berpidato dan berdebat di Pilkada DKI tahun lalu.

Tapi ternyata ada tokoh lain yang lebih tepat, orang yang Anies Baswedan pun mengganggapnya sebagai gurunya di dunia aktivis pergerakan (diungkapkan sendiri oleh Anies di Balaikota kemarin). Dia adalah ekonom senior Rizal Ramli.

Bagaimana tidak? Sekelas Sri Mulyani yang namanya harum sebagai menteri terbaik dunia saja tidak berani melayani Rizal Ramli debat.

Apalagi masalah ekonomi adalah yang paling krusial saat ini hingga Pilpres. Rizal sebagai ekonom senior yang berkali kali jadi menteri dan berbagai jabatan internasional, pasti akan sangat mumpuni.

Memangnya siapa di negeri ini yang berani layani Rizal Ramli debat masalah ekonomi?? Orang yang ditakuti Sri Mulyani dan yang dianggap guru oleh Anies Baswedan.

Bila digandeng Jokowi, Rizal akan mampu menjelaskan (melindungi) performa ekonomi penerintahan Jokowi periode pertama dan menjanjikan harapan perbaikannya di periode kedua Jokowi. Dengan memilih Rizal, Jokowi akan dianggap kembali mengambil haluan ekonomi kerakyatan.

Sementara, bila digandeng Prabowo, Rizal akan memblejeti habis kinerja ekonomi inkumben tanpa ampun dan menjanjikan harapan pergantian haluan atau percepatan di pemerintahan Prabowo. Satu lagi keuntungan Prabowo, Rizal Ramli adalah simbol penolakan Reklamasi Teluk Jakarta, karena Rizal direshuffle Jokowi akibat masalah Reklamasi ini.

Itulah keunikan dari keberadaan sosok seperti Rizal Ramli, yang mungkin belum tertangkap publik dan para elit politik.

Demikian kiranya opini saya, semoga membantu dunia perpolitikan Indonesia untuk lebih rasional memandang masa depan. Karena menang Debat Pilpres adalah kunci.

Penulis: Azwar Abdullah
(Pemerhati politik, tinggal di Serpong)

Continue Reading

OPINI

Pilpres 2019: Rakyat Jakarta Masih Cinta Anies?

Published

on

courtesy of bisnisdotcom - via: twitter/foto milik bisnisdotcom

Akhir Juli 2018, berbagai media massa baik cetak maupun online bahkan televisi marak memberitakan sepak terjang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait Pilpres 2019.

Dengan kemasan dan penonjolan isu bahwa rakyat Jakarta mengharapkan Anies Baswedan tidak maju sebagai Capres atau Cawapres pada Pilpres 2019.

Dengan alasan bahwa Anies punya janji politik terhadap warga Jakarta ketika maju sebagai Calon Gubernur DKI.

Rakyat Jakarta berharap Anies menunaikan tugas dan kewajibannya sesuai dengan janji dan amanah yang ada dipundaknya, yakni menyelesaikan masa tugas sebagai Gubernur DKI hingga tuntas 2022 nanti.

Secara normatif pemberitaan media-media massa tersebut benar berdasarkan fakta dilapangan. Faktanya ada tuntutan dari warga Jakarta yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), mereka mengeluarkan aspirasinya dengan melakukan aksi unjuk rasa di depan Balaikota DKI Jakarta.

Secara politis tentu fakta-fakta tersebut bisa dianalisa mendalam. Apakah aksi JRMK tersebut murni sebagai sebuah realitas politik warga Jakarta.

Yang masih mencintai dan benar-benar butuh pemikiran dan kebijakan Anies Baswedan untuk memimpin DKI Jakarta. Ataukah hanya semacam “dramaturgi” politik.

Artinya, aksi unjuk rasa JRMK tersebut adalah skenario yang disponsori pihak-pihak “kekuatan politik” tertentu untuk membuat kesan dan opini bahwa Anies Baswedan “seharusnya” tidak maju sebagai Capres atau Cawapres.

Analisa tersebut logis, karena berbareng dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2018 yang baru saja ditanda tangani Presiden Jokowi pada tanggal 18 Juli 2018 yang mengatur Kepala Daerah termasuk Gubernur yang akan maju pada Pilpres 2019 harus mendapat ijin dari Presiden.

Bagaimana dengan media-media yang memberitakan dengan tema isu tersebut, apakah terlibat dalam skenario tersebut diatas ? media-media massa dalam pergulatan politik bisa memiliki kecenderungan “terlibat” karena media massa juga memiliki motif “politik dan ideologi”.

Karena pilihan dan seleksi isu pemberitaan sebuah media massa pada dasarnya merupakan “politik” media itu sendiri dari hulunya yang dipengaruhi banyak hal dalam relasi sosial, relasi politik dan relasi ekonomi yang saling terkait.

Meski Jika kita mengacu pada nilai normatif, tentu selayaknya pemimpin sebisa mungkin mampu menepati janji dan amanahnya. Dalam hal ini Anies Baswedan diharapkan menunaikan tugasnya hingga selasai waktunya tahun 2022.

Namun, para politisi memiliki segudang reason dan argumentasi untuk mengkonstruksi keputusan-keputusan politiknya. Termasuk diri seorang Anies Baswedan.

Jikapun pada akhirnya Anies memutuskan akan maju menjadi Capres atau Cawapres tentunya hal tersebut menjadi “hak politiknya”.

Toh preseden atau contoh peristiwa politik dan keputusan politik tersebut juga pernah dilakukan oleh Gubernur pendahulunya.

Pada akhirnya, segala keputusan politik Anies dalam momentum Pilpres 2019 menjadi “ranah yang sangat politis”.

Apakah akan tetap menjalankan amanah sebagai Gubernur hingga tuntas tahun 2022, ataukah akan maju diperhelatan pilpres 2019. Tentunya tidak mudah untuk menafsir dan menjelaskannya, apalagi sekedar menghakimi. [alisodikin]

Continue Reading

OPINI

Prabowo, SBY dan Pertarungan Akbar 2019: Nasihat Dari Seorang Oposisi

Published

on

photo credit: Prabowo dan SBY/milik: @pelorsikumbang/via: twitter

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Oposisi)

Kemarin, 24 Juli, Prabowo dan Yudhoyono (SBY), merencanakan pertemuan politik mereka, setelah tertunda sebelumnya, karena SBY sakit.

Pertemuan itu tentu merupakan pertemuan akbar (besar) karena beberapa hal sebagai berikut: pertama, SBY dan Prabowo adalah eks militer Indonesia yang paling brilliant di masa karir militernya. Prabowo dikenal karena sisi “combatant” nya, sedangkan SBY karena kecerdasannya dalam bidang strategi dan sosial politik.

Sebagai sosok militer, tentu kedua pemimpin ini mempunyai kemampuan komprehensif melihat persoalan bangsa yang kompleks dan komplikasi (complicated), serta jalan keluarnya.

Sebagaimana kita fahami, kemampuan itu bersumber pada kebiasan mereka berfikir strategik dan juga memasukkan konsep wawasan nusantara dalam semua analisanya.

Kedua, Adanya keinginan keduanya mencari presiden dan wakil presiden baru pada 2019, melalui pesta demokrasi.

Ketiga, Adanya situasi kontradiktif bangsa Indonesia yang harus diselesaikan dalam waktu segera, yakni, politik dikotomi yang mempertentangkan Islam di satu sisi versus nasionalis di sisi lain. Adanya ambivalensi antara “Mahathir Syndrome” yakni yang tua tetap mau kuasa versus yang muda menuntut dituntaskannya regenerasi politik sekarang juga. Juga, adanya kesulitan pilihan antara mendorong demokrasi sejati yang berbasis idealisme versus terjebak dalam demokrasi semu yang berbasis uang dan pencitraan.

Tentu saja pertemuan kedua tokoh ini ditunggu banyak pihak. Beberapa kemungkinan akan terjadi dalam pertemuan mereka tersebut, antara lain, Egoisme diantara mereka muncul dengan dorongan untuk “saling tipu daya”. Situasi ini adalah “zero sum game“, di mana yang satu akan memusnahkan yang lain. Bagaimana ini mungkin muncul?

Tentu bagi pengamat yang lama melihat keduanya, sesungguhnya relivalitas kedua tokoh ini berlangsung puluhan tahun sejak di Taruna Akabri.

Situasi rivalitas yang berlangsung lama, cenderung mendorong kedua pihak terperangkap pada ego masing-masing, daripada mengedepankan kepentingan bersama.

Pada awal awal 90 an, berbagai pihak selalu membincangkan siapa diantara mereka mendapat bintang satu, lalu bintang dua dan seterusnya.

Meski situasi saat ini sudah berbeda, namun selama keduanya masih eksis dalam politik dan kekuasaan, selama itu pula rivalitas dan perangkap “permusuhan” menjadi celah buruk bagi keduanya.

Dalam pilkada Jakarta lalu, sebagai contoh penting karena adanya pertarungan keras, kedua mereka terjebak dalam ego rivalitas. SBY tidak memberikan dukungan pada Prabowo pada putaran kedua pilkada, karena sebelumnya, Prabowo membiarkan SBY diserang oleh kekuatan Pro Jokowi dan Pro Ahok.

Kemudian, kemungkinan kedua adalah adanya kesepakatan pragmatis. Prabowo menawarkan dirinya sebagai Capres, dan SBY menawarkan kadernya, Agus Yudhoyono (AHY), sebagai Cawapres.

Hal ini sangat rasional terjadi. Sebab, kekuatan oposisi utama, Gerindra, PKS dan PAN akan mendapatkan energi politik besar dari klan Yudhoyono, jaringan poltiknya, baik lokal maupun asing, maupun pasokan logistik.

Sebagaimana diperkirakan, Kelompok oposisi saat ini mengalami tekanan logistik, yang mengakibatkan kekalahan pilkada di Jateng dan Jabar baru-baru ini.

Kemungkinan pasangan ini tentu saja harus mendapat dukungan dari kelompok Islam dan luar Jawa serta politisi sipil.

Namun, sebagai Presiden dua periode yang faham merangkul kekuatan itu, SBY punya jurus untuk dapat dukungan. Di Pilkada Jakarta lalu, SBY membuktikan, koalisi Jokowi pecah dalam mendukung Ahok akibat SBY merangul PPP dan PKB.

Di Pilkada Jabar, SBY juga berhasil mengurangi ketegangan politik berbasis isu agama dan suku, dengan merangkul dua figur yang sebelumnya berkontradiksi, yakni Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi.

Dalam pilpres 2009, SBY juga mengambil Cawapres nya dari sesama suku Jawa, bahkan satu kampung (sebagai catatan pilpres di USA melarang pasangan calon dari satu daerah/state yang sama). Saat itu SBY tetap mampu meredam kecemburuan tokoh-tokoh luar jawa.

Dengan demikian, kita fahami bahwa kehadiran SBY dalam koalisi besar dengan oposisi, keberadaannya sangat rasional untuk terjadi.

Skenario ketiga, SBY dan Prabowo sama-sama memikirkan regenerasi politik nasional. Hal ini mungkin terjadi jika mereka tidak latah dengan contoh yang diberikan Jusuf Kalla, diusia uzur, masih menyatakan ambisinya untuk kembali jadi Cawapres Jokowi. Memang di negara tetangga ada Mahathir yang sudah uzur tua renta masih menjadi Perdana Menteri. Namun, membandingkan secara simplistis situasi di sana, akan membuat kita lupa fenomena dunia lainnya, yang banyak menghasilkan orang-orang muda sebagai kepala negara.

Regenerasi politik juga penting untuk memberikan kesempatan kepada orang-orang tua menjalani kehidupan spritual yang membebaskan diri dari pertarungan duniawi. Sebuah kebajikan (wisdom) bangsa kita adalah mendorong orang-orang tua lebih banyak waktu diluangkan di kegiatan keagamaan dan sosial.

Pilihan ketiga ini mungkin tercapai, sekali lagi, jikalau ego SBY dan Prabowo dikontrol oleh “wisdom” mereka, sebagai sesama “pemain tua”.

Pasangan presiden dan Wapres yang diusung mereka, serta agenda agenda kebangsaan yang dijadikan isu sentral, menjadi lebih fleksibel untuk dibahas.

Sebagai “pemain tua”, SBY dan Prabowo kita sebut sebagai “King Maker”. Mereka menjadi “pandita ratu” yang membimbing. Sedangkan Capres dan Cawapres diserahkan kepada orang-orang muda.

Stock orang-orang muda sendiri di kubu oposisi sangat banyak. Jika SBY merasa AHY maksimum sebagai Cawapres, sebagaimana dia percaya dari peluang hasil-hasil survei, maka Gerindra, PKS dan PAN dapat memutuskan calon presiden.

Dalam dukungan PKS, yang masih dikatagorikan muda, ada Ahmad Heryawan dan Anies Baswedan. Dalam kacamata PAN, ada Zulkifli Hasan dan Sutrisno Bachir. Dalam perspektif Gerindra ada Sandiaga Uno, Fadli Zon dan Ferry Juliantono.

Sekali lagi, pilihan ini sangat bijak. Dan membuka peluang adanya kepemimpinan baru yang dinanti #2019 Ganti Presiden.

Bagaimana Prabowo dan SBY bertemu hari ini, di saat-saat waktu pendaftaran Capres/Cawapres yang semakin mendesak? Semoga saja mereka menekan ego mereka masing-masing. Pilihlah pilihan ketiga, itu nasihat saya. [sn]

Continue Reading

OPINI

Para Walikota dan Jabatan Yang Tidak Abadi

Published

on

ilustrasi/foto source: @aniesbaswedan/via twitter

Oleh: Ali Sodikin
Alumni HMI Cab. Jakarta dan Pengajar Ilmu Komunikasi

Beberapa hari ini polemik soal pergantian jajaran pejabat di Pemprov DKI Jakarta terus bergulir.

Di satu sisi, polemik ini bagus untuk memperlihatkan betapa ikhtiar perbaikan yang sekarang dilakukan membuat sebagian orang yang tak bisa bekerja maksimal khawatir.

Mereka khawatir akan tak lagi mendapatkan tugas-tugas penting dan menduduki posisi strategis.

Dengan begitu, polemik ini akan terus mendewasakan dan memperbaiki sistem birokrasi di Jakarta. Proses akhirnya toh pelayanan untuk warga bisa lebih baik.

Amanah dan jabatan itu bisa datang dan pergi. Kapan pun. Oleh siapa pun. Tapi yang pasti, begitu mendapatkan amanah, jangan lengah untuk menjalankannya. Syukurilah. Kerjakan dan emban amanah itu dengan terhormat dan rendah hati.

Sebagaimana Anies Baswedan sampaikan di media, semua proses pergantian jajaran pegawai di Pemprov DKI ini dilakukan berdasarkan undang-undang kepegawaian yang berlaku.

Mendagri Tjahyo Kumolo sendiri mengatakan bahwa proses yang dilakukan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan bisa dimaklumi.

Dia malah berharap agar polemik pergantian pejabat ini tak mengganggu kinerja pembangunan yang sekarang sedang berjalan.

Mestinya para mantan walikota dan pejabat yang diganti itu bisa melihat bagaimana sikap Anies Baswedan sendiri ketika dia direshufle sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Jokowi.

Padahal kita tahu semua, dari sisi kepuasan kinerja Menteri Anies Baswedan saat itu menempati urutan kedua atau ketiga menurut sejumlah survei dibandingkan menteri-menteri Kabinet Kerja lainnya.

Tapi, begitu pun, dia tak lantas memprotes atau marah-marah atas kebijakan Presiden Jokowi. Dia ikhlas menerimanya. Dia lantas bekerja kembali seperti biasa.

Jabatan itu datang dan pergi. Tuhan bisa memberikan dan mencabut kapan saja. Tidak perlu bangga berlebihan bila dapat jabatan, tapi juga tidak perlu meratapi jika lepas jabatan. Biasa saja.

Bahkan selalu ada hikmahnya. Lihat saja Anies Baswedan, dia diberhentikan dari kabinet malah sekarang jadi Gubernur dan kini malah digadang-gadang jadi Capres dan Cawapres.

Jadi, pesan untuk para walikota, jangan berkecil hati. Tidak perlu marah-marah juga. nanti jadi malu. Jabatan memang pada waktunya akan lepas dan dikembalikan pada negara.

Jabatan itu tidak abadi. Tak bisa selamanya Anda di situ. Jadi, sekali lagi, jabatan dan amanah bisa datang kapan saja. Tapi, jika Anda orang baik maka anda tidak perlu jabatan.

Dimanapun anda bisa bekerja dengan baik, dan tentu Anda tak usah khawatir karena pasti akan ada amanah yang tidak kalah bermakna sedang menunggu. [ali]

Continue Reading

OPINI

Internet dan Hoax

Published

on

ilustrasi

Oleh: Ali Sodikin (*

Dalam Cyberpolitics: Citizen Activism in the Age of the Internet (1998) Kevin A. Hill and John E. Hughes, Lanham, MD, menjelaskan bahwa internet digunakan siapa saja, civil society, militer dan siapapun, kelompok manapun yang memiliki kepentingan di seluruh dunia. Internet melampaui sensansi dan spekulasi dari banyak penemuan baru dibidang teknologi.

Studi-studi ilmu komunikasi, menjelaskan teknologi komunikasi pada awalnya hasil riset militer dan pertahanan.

Seperti yang dijelaskan Edwards dalam The Closed World: Computers and the Politics of Discourse in Cold War America, komputer muncul menjadi teknologi dominan karena perang dingin blok barat-timur.

Sisi Gelap Internet adalah Hoax,
Internet adalah suatu wilayah yang tak terbatas dan sering tampak tanpa hukum, sering Wild West, sebuah analogi dari film bergenre sejarah Amerika versi Hollywood.

Penyimpangan paling umum dan ringan dalam internet adalah penggunaan akun anonim (palsu), baik facebook, twitter, path, instagram, whatsapp, link, telegram dan lain sebagainya. Konten dari akun anonim adalah hoax atau berita bohong.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘hoax’ adalah ‘berita bohong.’ Dalam Oxford English dictionary, hoax didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.

Hoax bukan sesuatu yang baru, dan sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439.

Sebelum zaman internet, hoax bahkan lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk diverifikasi. Kecepatan dan sifat media sosial yang mudah untuk dibagikan, sangat berperan dalam penyebaran berita bohong.

Jenis Hoax

1. Hoax Murni, adalah berita bohong yang dibuat secara sengaja. Pembuatnya tahu bahwa berita itu bohong dan bermaksud untuk menipu orang dengan beritanya.

2. Judul Beda Isi Beriat, kebiasaan buruk banyak netizen adalah hanya membaca headline berita tanpa membaca isinya. Banyak beredar artikel yang isinya benar tapi diberi judul yang heboh dan provokatif yang sebenarnya tidak sama dengan isi artikelnya.

3. Berita Benar Tapi Waktu Lampau, Kadang-kadang berita benar yang sudah lama diterbitkan bisa beredar lagi di sosial media. Ini membuat kesan bahwa berita itu baru terjadi dan bisa menyesatkan orang yang tidak mengecek kembali tanggalnya.

Waspada Hoax

1. Selektif membaca berita, baik konten maupun institusi media massa tersebut.

2. Melakukan perbandingan pemberitaan antar media massa, terlebih informasi dari media sosial.

3. Jangan membagikan  artikel/foto/pesan berantai tanpa membaca sepenuhnya dan yakin akan kebenarannya.

Lebih dari itu, pertanyaan besar bagi kita adalah, apakah sistem negara kita (pemerintah) memiliki kemampuan teknologi dan sistem dunia virtual, hingga mampu menegakkan hukum yang ada.

Karena tidak akan ada artinya sebuah undang-undang, jika pemerintah tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menegakkkanya (pegang kendali).

Karena dunia virtual adalah bicara siapa pegang kendali. Mengendalikan kekuasaan, legitimasi, kepercayaan, catatan dan keamanan kehidupan modern.

(* Dewan Redaksi EDUPUBLIK

Continue Reading

EduOto

Eduoto7 hari lalu

Rivaldi Pengemudi Truck Volvo Terbaik Indonesia Asal Kalimantan Selatan

JAKARTA – Setelah menempuh perjuangan berat di babak seleksi nasional dan final nasional Volvo Trucks Indonesia Driver Challenge 2018 di...

Eduoto3 minggu lalu

Ini Pemenang Volvo Trucks Indonesia Driver Challenge 2018

JAKARTA – 8 pengemudi truk terbaik dari Indonesia berkumpul di Sirkuit Internasional Sentul untuk bersaing di ajang Volvo Trucks Indonesia...

Eduoto4 minggu lalu

Volvo tantang Pengemudi Truk Terbaik Indonesia, Tiket ke Swedia Menanti

JAKARTA – Volvo Truck Indonesia dan PT Wahana Inti Selaras menyelenggarakan Kompetisi langsung dengan mengemudikan Volvo FH, Volvo FM dan...

Eduoto3 bulan lalu

PMJ ingatkan Cara Aman Mudik Bagi Pengendara Sepeda Motor

EDUPUBLIK.COM, JAKARTA – Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya (PMJ) Kombespol Argo Yuwono mengingatkan cara aman mudik yang menggunakan sepeda...

Eduoto6 bulan lalu

Benarkah Calon Pembeli Tesla Berpaling Ke Chevrolet Bolt, Ini Penjelasannya

EDUPUBLIK.COM, SAN FRANCISCO – Mobil listrik dari General Motors, Chevrolet Bolt, mendapatkan angin segar menyusul terus tertundanya produksi Tesla Model...

Eduoto6 bulan lalu

SUV termewah Mazda Mengaspal di Bandung, Ini Targetnya

EDUPUBLIK.COM, BANDUNG – Distributor resmi Mazda di Indonesia, PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), mulai memasarkan SUV termewah dalam jajaran produk...

Eduoto7 bulan lalu

Sukses Memperkuat Penjualan, IGNIS Tampil Istimewa

EDUPUBLIK.COM, Bandung – Peluncurannya pada April 2017 lalu mencuri perhatian pencinta otomotif di Indonesia. Siapa yang tidak kenal dengan Suzuki...

Eduoto1 tahun lalu

MCI Siap Promosikan Pariwisata dan Budaya Indonesia melalui Touring

Edupublik.com, Jakarta – Ketua Moge Club Indonesia (MCI) Brader Indra menyatakan di Tahun 2017 ini MCI akan mengadakan Tour Pariwisata...

Eduoto2 tahun lalu

Ini Kata Jokowi Terkait Tingginya Biaya Administrasi STNK

Edupublik.com, Pekalongan – Presiden Jokowi menepis sejumlah anggapan yang beredar bahwa terjadi kesimpangsiuran informasi yang masuk kepadanya terkait dengan penyesuaian...

Eduoto2 tahun lalu

Ini Alasan Pemerintah Menaikan Biaya Administrasi STNK

Edupublik.com, Jakarta – Pemerintah menaikan biaya administrasi pengurus STNK, SIM, dan BPKB. Beberapa poin peningkatan layanan menjadi keuntungan yang didapat...

Advertisement banner 300x250

Terpopuler