Connect with us

OPINI

Nasionalisme Era Digital: Pencegahan Penyebaran Paham Radikalisme dan Terorisme Melalui Internet

photo credit/ILUSTRASI: bom guncang surabaya/foto source: bbc indonesia/getty image/humas pemkot/a pinaria

Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat untuk mencintai dan setia bangsa dan negara.

Nasionalisme juga mengandung arti kebersamaan, persatuan-kesatuan, dan demokrasi untuk kemakmuran yang berkeadilan.

Menurut James G. Kellas (1998: 4), nasionalisme merupakan suatu bentuk ideologi. Sebagai suatu ideologi, nasionalisme membangun kesadaran rakyat sebagai suatu bangsa serta memberi seperangkat sikap dan program tindakan. Tingkah laku seorang nasionalis didasarkan pada perasaan menjadi bagian dari suatu komunitas bangsa.

Nasionalisme Indonesia terbentuk melalui perjalanan dan pengalaman panjang  berdasar banyak faktor, kesamaan geografis, rumpun, bahasa, ekonomi, religius, dan kondisi senasib sepenanggungan dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing.

Pengalaman batin penderitaan bersama dalam melawan penjajahan melahirkan semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang harus bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka. Semangat yang telah diwariskan oleh para pejuang pendiri bangsa harus kita rawat dan jaga hingga masa-masa mendatang.

Inti dari Nasionalisme Indonesia adalah kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku, ras, etnik, dan agama, saling menghargai dan menghormati perbedaan, menjaga kerukunan.

Nasionalisme Indonesia adalah semangat kebangsaan yang berdasar pada Pancasila dan UUD 1945.

Radikalisme, Terorisme Dalam Kemajuan IT

Radikalisme adalah paham, pemikiran atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan. Radikalisme adalah bibit atau embrio dari teroris.

Terorisme berdasar UU No.15 Tahun 2003 Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Pasal 6, adalah: Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Teroris adalah kejahatan luar biasa yang bergerak secara rapi, terorganisir, melampaui batas-batas negara. Kejahatan besar terhadap kemanusiaan yang dibangun melalui penyesatan-penyesatan dan manipulasi alam berpikir khalayak melalui doktrin-doktrin tertentu, bahkan mereka menggunakan dogma-dogma agama tertentu untuk melakukan penggalangan dan pembenaran atas langkah dan perbuatan mereka.

Kejahatan teroris yang menghalalkan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk menimbulkan suasana rasa takut terhadap kehidupan manusia secara massal dengan modus operandi yang paling umum adalah dengan pengeboman-pengeboman (termasuk didalamnya bom bunuh diri) ditempat-tempat umum dengan sasaran secara acak banyak terjadi diberbagai penjuru dunia. Secara umum korban adalah warga sipil yang tidak berdosa.

Kemajuan teknologi dan informasi menyebabkan Indonesia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia global atau kampung global.

Batas-batas negara yang secara fisik (pos jaga perbatasan dan tentara) tidak lagi mampu membendung derasnya arus informasi yang menerpa kita bangsa Indonesia.

Karena pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, setiap individu dapat mengakses dan berkomunikasi tanpa dibatasi sekat ruang dan waktu dengan individu lain diseluruh dunia.

Efek domino dari kemajuan internet pada akhirnya mempengaruhi berbagai pandangan dan pemikiran, salah satunya adalah dalam bidang sosial politik. Isu-isu dan budaya universal yang ada diseluruh dunia dengan sendirinya akan menjadi isu nasional.

Kemajuan internet menyebabkan pesatnya pertumbuhan komunitas-komunitas dunia maya karena mudahnya berkomunikasi tanpa hambatan geografis untuk membangun hubungan diseluruh dunia.

Hubungan dalam komunitas maya didasarkan pada tekstual informasi dilengkapi dengan gambar, suara, dan bentuk lain dari media digital.

Meski mewakili seseorang yang nyata, namun kehadirannya dalam bentuk video, gambar, foto, tek-teks sangat rentan penipuan.

Karena sangat mungkin tampilan yang ada tersebut adalah identitas palsu atau akun-akun anonim yang menyesatkan.

Penggunaan akun palsu (anonim) dalam dunia maya, baik facebook, twitter, path, instagram, whatsapp, bbm dan lain sebagainya, adalah bentuk penyimpangan yang paling umum.

Internet adalah suatu wilayah yang tak terbatas dan sering tampak tanpa hukum, dalam Cyberpolitics: Citizen Activism in the Age of the Internet (1998) Kevin A. Hill and John E. Hughes, Lanham, MD, menjelaskan secara teori bagaimana internet dapat digunakan siapa saja, civil society, militer dan siapapun, kelompok manapun yang memiliki kepentingan di seluruh dunia, termasuk para pelaku terorisme.

Cegah Dini Ideologi Terorisme

Kejahatan teroris di Indonesia menurut Arsyaad Mbei dalam bukunya Dinamika Baru Jejaring Terror di Indonesia (2014 : 15) tipe terorisme di Indonesia adalah terorisme yang dimotavasi oleh agama (religiously motivated).

Hal tersebut berdasarkan fakta-fakta yang terungkap bahwa para pelakunya adalah penganut ideologi agama yang radikal-ekstrim, dan mereka memperjuangkan ideologi dan pemahaman mereka dengan cara-cara kekerasan.

Padahal ajaran agama khususnya Islam menurut cendikiawan muslim Prof. Nazaruddin Umar, radikalisme dan terorisme sebenarnya tidak ada dalam ajaran Islam. Sebab selama ini Islam tidak menggunakan radikalisme untuk berinteraksi dengan umat beragama yang lain.

Dalam sejarahnya, penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW selalu mengajarkan umatnya untuk bersikap lemah lembut. Penyebaran Islam dilakukan dengan cara santun, memberikan penghormatan kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang memiliki keyakinan berbeda.

Penyebaran paham radikalisme dan terorisme menggunakan segala cara, baik manual maupun digital dengan memanfaatkan internet.

Mereka para kelompok atau organisasi teroris memanfaatkan sosial-kultur mayoritas masyarakat kita yang permisif dan toleran untuk mereka mengeram dan menularkan sel-sel mereka di Indonesia. Kondisi rakyat yang religius, polos, mudah percaya, dimanipulasi dan disesatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.

Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah pola mereka yang meracuni dan merekrut anak-anak muda yang masih polos untuk menjadi martil bagi kejahatan mereka.

Karena itu, untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme melalui internet dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi, kita sebagai bangsa harus senantiasa waspada dan mawas diri. Langkah untuk antisipasi dini dapat kita lakukan dengan metode sebagai berikut :

a. Jangan mudah percaya dengan orang yang baru kita kenal dalam pertemanan di dunia maya karena tidak ada jaminan bahwa identitas mereka sebagai pemberi informasi dalam internet benar-benar jujur, meskipun mereka menggunakan gambar, foto, teks-teks, maupun video yang meyakinkan, akan sangat bijaksana jika kita tidak langsung menganggap bahwa persona online adalah orang yang sama dalam kehidupan nyata.

b. Kurangnya kontak tatap muka, selain melalui kamera video, menyebabkan kita kesulitan untuk mengetahui dan menilai identitas orang lain yang sebenarnya.

c. Karena hubungan dan identitas didasarkan sepenuhnya pada tampilan digital yang mudah direkayasa dan dimanipulasi maka perlu kehati-hatian yang cukup sebelum komunitas maya berhubungan dalam kehidupan nyata atau kopi darat. Harus dilakukan secara bertahap, di mana kita dapat memverifikasi (cek dan ricek) bahwa rincian dan informasi yang diberikan oleh pengguna online jujur sebelum berhubungan dalam  kehidupan nyata.

d. Waspadai dan jangan mudah terpengaruh pemikiran dan paham yang mengajak pada jalan kekerasan dalam kasus sosial politik, isu-isu SARA melalui media internet.

e. Laporkan kepada pihak berwenang jika mendapatkan segala informasi melalui internet yang mencurigakan sebagai penyebar kebencian, paham radikalisme dan terorisme. [ali sodikin]

Comodo SSL
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EduOto