Connect with us

EduJatim

Pakde Karwo: Kemerdekaan Sebagai Momentum Wujudkan Keadilan

Edupublik.com, Surabaya – Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72 ini harus dijadikan sebagai momentum dalam mewujudkan masyarakat yang adil, karena ketika keadilan terwujud maka akan tercipta kemakmuran. Keadilan, menjadi konsep utama sebab disparitas menjadi problem serius yang saat ini dialami Bangsa Indonesia.

Hal ini disampaikan Gubernur Jatim, Soekarwo usai menjadi Inspektur Upacara Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (17/8).

Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim menjelaskan, konsep keadilan disini berarti negara memberikan akses terhadap pihak yang kecil dan lemah, agar tidak menimbulkan disparitas.

Apalagi, saat ini 1 persen masyarakat Indonesia menguasai 49,7 persen kekayaan negara. “Masalah disparitas ini harus dipikirkan secara serius, bila tidak maka akan muncul konflik sosial,” katanya.

Selain sebagai momen mewujudkan keadilan, peringatan kemerdekaan ini juga menjadi momentum sakral dalam proses kontemplasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta sebagai bentuk rasa terimakasih kepada para pejuang.

“Setelah itu kita harus melakukan perenungan apakah jalan yang dilakukan untuk mewujudkan adil dan makmur sudah ditemukan,” kata Pakde Karwo. [azr]

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EduJatim

Bertemu Erdogan, Wali Kota Risma Inspirasi Perempuan Turki

Published

on

credit: Walikota Surabaya Tri Rismaharini/dok. SS via twitter

EDUPUBLIK – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi narasumber dan tamu kehormatan dalam International Forum of Women in Local Government di Ankara, Turki, pada 11-12 Desember 2019.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Sayap Perempuan, Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP), partai politik yang didirikan dan saat ini masih dipimpin oleh Presiden Recep Tayyib Erdogan.

“Naluri kita (perempuan) yang kuat untuk menolong orang lain, memperhatikan hal-hal detail, dan untuk lebih banyak mendengar membuat kita mampu memimpin dengan hati, membuat kita mengambil keputusan yang berbasis kebutuhan nyata rakyat dan membuat keputusan yang tepat saat dibutuhkan. Atau dalam kata lain kita mampu memimpin dengan penuh kepedulian”, ujar Risma dalam pidatonya selama kurang lebih 15 menit di depan Presiden Erdogan dan sekitar tiga ribu perempuan yang hadir, seperti disampaikan dalam keterangan tertulis KBRI Ankara, Jumat (13/12).

Selain menyampaikan pidato dalam sesi utama, pada kesempatan tersebut Risma juga menandatangani kerja sama sister city antara Kota Surabaya dengan Kota Gaziantep, salah satu kota industri utama di Turki yang juga dipimpin oleh seorang wali kota perempuan. Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan langsung di hadapan Presiden Erdogan.

“Para pemimpin politik di Turki meminta bantuan saya menghadirkan Bu Risma. Sebuah kebanggaan jika perempuan Indonesia bisa menjadi inspirasi dan model bagi kaum perempuan di negara lain”, kata Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal.

Forum ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya Presiden Erdogan untuk mengarusutamakan peran perempuan di berbagai sektor, termasuk dalam politik.

Edisi ke-6 forum internasional perempuan itu dihadiri oleh para tokoh perempuan dari sekitar 20 negara. Risma diundang sebagai tamu kehormatan karena dipandang berhasil sebagai wali kota dan berhasil menjadi inspirasi bagi banyak perempuan, termasuk di Turki.

“Perempuan-perempuan inspiratif seperti Risma dari Surabaya, Indonesia, menambah keyakinan kita bahwa perempuan harus dilibatkan dan diajak bicara dalam proses pembangunan,” tutur Presiden Erdogan dalam pidato sambutannya.

Saat ini dari 600 anggota parlemen Turki, hanya 103 orang perempuan. Dari 1.389 wali kota, hanya sekitar 3 persen wali kota perempuan.

Pada masa kepemimpinan Presiden Erdogan terjadi peningkatan signifikan jumlah perempuan yang aktif di ranah publik, meskipun disadari jumlahnya masih masih jauh dari harapan. [rzy/ant]

Continue Reading

EduJatim

Kasus Sekolah Ambruk, Polisi Tetapkan Dua Tersangka Tak Miliki Pengetahuan Konstruksi

Published

on

credit: Atap Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentong, Kota Pasuruan, Jawa Timur yang ambruk pada pekan lalu/dok. jtp. ss/via: instagram

SURABAYA – Kepolisian Daerah Jawa Timur mengungkapkan dua tersangka kasus ambruknya atap kelas di SDN Gentong, Kota Pasuruan, berinisial DM dan SE tak memiliki basis pengetahuan khusus di bidang konstruksi.

Dirreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol Gidion Arif Setiawan saat merilis kasus tersebut di Surabaya, Senin, mengatakan, DM yang merupakan kontraktor dan pelaksana proyek dari CV Andalus hanyalah lulusan SMA.

Sedangkan, SE yang merupakan mandor proyek dari CV DHL Putra hanya tamatan SMP, kendati demikian, keduanya sudah menggarap banyak bangunan sejak 2004.

“Jadi, latar belakang yang bersangkutan memang bukan teknik dan tidak memiliki kecakapan khusus,” ujarnya.

Dia menjelaskan, proyek yang dikerjakan kedua tersangka hanya renovasi bagian atap untuk empat kelas dan sifatnya swakelola, anggaran proyek berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2012 sebesar lebih dari Rp200 juta.

“Dalam satu paket (DAK) mereka mengerjakan beberapa proyek,” ucap Gidion.

Berdasarjan hasil uji laboratorium forensik, semua material bagian atap gedung SDN Gentong diketahui tidak sesuai spesifikasi sehingga menjadi bukti kelalaian yang disangkakan kepada keduanya dan tinggal menunggu waktu saja untuk ambruk.

Gidion menambahkan ketidaksesuaian spesifikasi bangunan yang dikerjakan tersangka cukup mencolok, semisal pada kolom atau ring balok yang semestinya diisi empat besi berdiameter 12 milimeter, hanya diisi tiga besi itu pun spesifikasinya kurang dari perencanaan.

“(Yang dipakai tersangka) istilahnya menggunakan besi banci. Kalau berdasarkan hasil uji laboratorium ketemu delapan koma sekian mili diameternya,” katanya.

Begitu pula dengan material pada beton, lanjut dia, juga dikurangi dari seharusnya yang tertuang dalam kontrak.

Selain itu, pasir yang digunakan tersangka pada beton menggunakan pasir biasa, tidak sesuai dengan perencanaan yang seharusnya menggunakan pasir dari Lumajang.

“Kalau di sini pasir yang terkenal bagus ialah Pasir Lumajang, daya ikatnya cukup bagus,” katanya.

Dia menjelaskan, sementara ini penyidik baru menetapkan dua orang sebagai tersangka, namun polisi masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang harus dimintai pertanggungjawaban.

Keduanya dianggap lalai karena proyek yang dikerjakan tujuh tahun lalu berupa gedung empat kelas di SDN Gentong 1 Pasuruan akhirnya ambruk dan membuat dua orang meninggal dunia, yaitu siswa kelas 2B Irza Almira (8) dan guru Sevina Arsy (19).

Tak itu saja, jumlah korban luka akibat peristiwa tersebut mencapai 16 orang.

“Kedua tersangka terjerat Pasal 359 dan 360 ayat (1) yang ncaman hukuman lima tahun penjara,” tuturnya. [aryo]

Continue Reading

EduJatim

Siswa Sekolah Ambruk Belajar Sementara Di Ponpes Al Ghofuriyah

Published

on

credit: Atap Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentong, Kota Pasuruan, Jawa Timur yang ambruk pada pekan lalu/ss, jp/via: instagram

PASURUAN – Atap Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentong, Kota Pasuruan, Jawa Timur yang ambruk pada pekan lalu, sehingga ratusan siswa belajar sementara di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ghofuriyah yang lokasinya sekitar 300 meter dari tempat sekolah setempat.

Dengan beralaskan terpal dan karpet, siswa kelas 1 sampai dengan kelas 6 mengikuti materi pemulihan trauma dari dinas pendidikan setempat.

Kepala Bidang Tenaga Pendidik Dinas Pendidikan Kota Pasuruan, Jawa Timur, Amin Jafar di Pasuruan, Denin, saat memimpin kegiatan mengajak kepada siswa bernyanyi dan juga tanya jawab seputar kemampuan dasar siswa.

“Ini namanya siapa, kelas berapa,” kata Amin kepada salah satu siswa.

Pada kegiatan itu, juga diwarnai dengan riuh tawa para siswa yang sebagian masih di dampingi oleh orang tua mereka saat pelaksanaan kegiatan berlangsung.Selain itu, untuk memeriahkan kegiatan juga dihadirkan satu robot manusia untuk membantu memberikan kesan menyenangkan bagi siswa.

Sejumlah ruangan kelas juga sudah disiapkan di bagian samping masjid pondok. Terdapat empat ruangan kelas yang nantinya akan digunakan sebagai bergantian siswa untuk kegiatan belajar mengajar.

Sebelumnya, sebanyak dua orang meninggal dunia terdiri dari satu siswa dan guru serta belasan siswa lainnya mengalami luka-luka akibat ambruknya atap di SDN Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Selasa (5/11) pukul 08.30 WIB.

Gedung sekolah yang ambruk berada di bagian depan terdiri dari empat kelas, yakni kelas 2 A dan B, serta kelas 5 A dan B. [ria]

Continue Reading

Terpopuler