Connect with us

Art and Science

SENI BANDUNG #1 Simbol Silaturahmi Budaya

photo credit: Pembukaan Seni Bandung #1 / dok. Akbar

Edupublik.com – SENI BANDUNG #1 hari ini dimulai dengan beberapa perhelatan dan Akad Seni Bandung di jalan Dalem kaum. Perhelatan yang melibatkan lebih dari 2.475 pelaku seni, budaya serta pegiat sastera kota Bandung melalui 688 kegiatan sastera, seni rupa, pertunjukan teater, tari dan musik yang tersebar di 48 titik kegiatan (venue) di wilayah kota Bandung ini akan menjadi simbol silahturahmi budaya warga kota Bandung. Seni Bandung #1 akan digelar selama tiga puluh hari mulai hari ini sampai 25 Oktober 2017 nanti akan dipadati jutaan warga kota Bandung serta masyarakat dari luar kota Bandung.

Malam ini, warga kota bandung dan wisatawan akan menjadi saksi peristiwa “Akad” Seni Bandung dengan Walikota Bandung, Kang Emil sebagai representasi warga kota Bandung yang akan digelar di jalan Dalem Kaum. Sebuah kawasan pusat kota yang sudah menjadi penanda budaya urban dan aktifitas ekonomi kreatif warga kota. Pagelaran seni yang dikerjakan melalui pendekatan kultural ini memposisikan perhelatan Seni Bandung #1 pada makna kebinekaan budaya dan seni kota hari ini yang makin majemuk dan berkembang positif, sekaligus jadi simbol kerukunan dan persatuan pelaku seni dan budaya kota Bandung.

Serangkaian kegiatan seni interaktif di sepanjang jalan Dalem Kaum yang dimulai pada pukul 16.00 – 23.00 WIB dengan konsep festival jalanan. Sebuah pertunjukan wayang keliling di kawasan Jalan Dalem Kaum akan disajikan oleh Wayang Monolog di atas kendaraan bak terbuka. Kemudian pertunjukan musik perkusi oleh Tatanggaranda83. Di antara pertunjukan itu juga hadir sajian musikalisasi puisi oleh Yayan Khato, dilanjutkan dengan sajian pertunjukan seni tariKomodo dari komunitas Kamoro, Papua, hingga tiba waktunya Shalat Magrib.

Sebelum acara puncak pembukaan Seni Bandung #1 pada waktu petang, warga kota Bandung dan wisatawan dapat menyaksikan Dance Film, sebuah pertunjukan komposisi tari menggunakan layar, dilanjutkan dengan Musikalisasi puisi dari Adhew Habtsa. Kemudian, Kegiatan Natural Dance Festival – Seni Bandung #1, menyajikan komposisi tari Cawene oleh Oos Koswara akan mengiring Kang Emil didampingi Dewi Kaniasari, Kadispudpar, beserta ‘imam besar’ Seni Bandung #1, Iman Soleh dan Heru

Hikayat sebagai Direktur Artistik Seni Bandung #1menuju prosesi Akad Seni Bandung – kegiatan ceremonial di atas panggung.

Budayawan, Bambang Sugiharto, akan memberikan orasi Seni Bandung sebagai prosesi awal Akad Seni Bandung dilanjutkan dengan pidato Walikota Bandung, Ridwan Kamil, hingga ke acara puncak Akad seni bandung yaitu penyerahan mahar berupa Buku program Seni Bandung #1 kepada Kang Emil.

photo credit: Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, resmikan Pembukaan Seni Bandung #1 / dok. Akbar

“Hari ini kita awali kegiatan Seni Bandung yang pertama dengan semangat silahturahmi budaya, semangat kebersamaan yang nyeni, semangat keberagaman bahasa untuk Kota bandung yang ke-207 melalui beragam kreatifitas pelaku seni, sastera dan warga kota Bandung yang lahir dari proses kreatif yang ditopang oleh kekayaan seni-budaya yang hidup di kota Bandung yang tercinta ini. Seni Bandung #1 adalah etalase kreatifitas warga kota Bandung yang mampu mengolah potensi-potensi seni dan budaya kota ke dalam bentuk kreatifitas bersama hingga menyatukan semua elemen kota Bandung. Seni Bandung ke depan bukan saja dijadikan ikon kota Bandung di Jawa Barat tetapi ikon perhelatan budaya yang khas di kawasan Asia Tenggara,” kata Kang Emil.

Mengapa Jalan Dalem kaum? Jalan Dalem Kaum dipilih oleh penyelenggara sebagai penanda awal perhelatan Seni Bandung #1 dimana kawasan ini merupakan titik pusat budaya urban dan sekaligus pusat kota Bandung. Kawasan ini diyakini dapat menyemaikan konsep kolaborasi dan partisipasi publik yang menjadi landasan kreatif Seni Bandung #1 yang melibatkan warga kota Bandung bersama seniman serta sasterawan yang terlibat aktif dalam festival Seni Bandung #1ini. Kegiatan seni rupa yang melibatkan keterlibatan atau partisipasi publik juga digelar oleh HUMPH ZINE di kawasan jalan Dalem Kaum.

“Seni Bandung sebaiknya dibuka dengan suasana yang cair di ruang publik yang menjadi titik sentral medan seni dan budaya kota Bandung. Oleh sebab itu Jalan Dalem kaum dipilih menjadi venue pembuka perhelatan Seni Bandung #1 ini dengan harapan masyarakat akan mendapatkan memori kolektif dari perhelatan ini,” kata Heru Hikayat, Direktur Artistik Seni Bandung #1.

Iman Soleh, memandang perhelatan Seni Bandung yang pertama ini sebagai wujud kekuatan besar seni dan budaya warga kota Bandung dalam membangun sebuah nilai harmoni dari kekuatan energi positif yang disatukan dengan bahasa budaya kota; warga kota dan pemangku kebijakan, pemerintah, bekerjasama membangun peradaban kota Bandung. Seni Bandung #1 sebagai wadah kreatif bersama yang didukung pemerintah kota Bandung sudah dijadikan agenda seni-budaya tahunan, maka perhelatan warga kota Bandung ini selanjutnya memberikan ciri khas yang lain untuk kota seniman dan budayawan ini.

Kegiatan malam pembukaan Seni Bandung #1 dilanjutkan dengan gelaran Dance Film oleh di beberapa titik di kawasan Jalan Dalem Kaum danpertunjukan tari api dari Tatanggaranda83. Malam pembukaan Seni Bandung #1 akan ditutup dengan pertunjukan hiburan teater modern berbasis seni tradisi, Longser Injuk, yang akan menghibur pengunjung di kawasan Dalem Kaum hingga sebelum tengah malam.

Hari Minggu, 24 September 2017, ini juga sudah mulai digelar kegiatan Seni Bandung #1 di sudut kota Bandung yang lain. Antara lain, perhelatan musik bertajuk FOLK NIGHT 15 mulai pukul 20,00 WIB dengan penampilan musisi: PAPARAZI, TETANGGA JENDRAL, ETHNOPROGRESSIVE dan AKUSTIKILLER di RUANG PUTIH, Jalan Bungur 37, Karangsetra, Sukajadi, Bandung. Komunitas Taboo, Rahmat Jabaril, melaksanakan kegiatan seni rupa bersama warga sekitar di Kampung Kreatif, Dago Pojok, sudah mulai proses produksi sejak tanggal 23 September 2017. Hari ini kegiatan Interupsi Sastra berupa seni mural dan stensil oleh Iwan R. Ismail di kawasan Babakan Ciamis  (BNI Viaduct) dan beberapa titik di jalan Kopo/KH Whaid Hasyim, kota Bandung.(rls/SA)

 

 

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Art and Science

Museum Macan Umumkan Program Pameran Baru Sepanjang 2020

Published

on

credit: museum macan/dok. facebook

EDUPUBLIK, JAKARTA – Pada 2020, museum MACAN berencana menggelar beberapa pameran seni dari seniman lokal dan mancanegara.

“Kami tidak sabar untuk menampilkan pameran skala besar karya-karya Melati Suryodarmo, Julian Rosefeldt, Agus Suwage dan Chiharu Shiota pada 2020,” kata Direktur Museum MACAN Aaron Seeto dalam siaran pers.

Program 2020 di MACAN dibuka dengan karya video masif, “Manifesto” pada Februari – Mei 2020 oleh perupa Jerman Julian Rosefeldt, yang ditampilkan dalam 13 layar.

Dalam karya ini, aktris Cate Blanchett tampil sebagai 12 karakter dan membacakan manifesto seni abad ke-20, juga tulisan para perupa, penyair, arsitek, penampil dan pembuat film termasuk Kazimir Malevich, Sturtevant, Sol LeWitt, Claes Oldenburg, Mierle Laderman Ukeles, André Breton, Bruno Taut, Lebbeus Woods, Yvonne Rainer dan Jim Jarmusch.

Presentasi ini dibuat dalam kemitraan dengan Art Gallery of New South Wales (AGNSW).

Pada Februari, MACAN menampilkan “Why Let the Chicken Run?”, pameran survei museum perupa kontemporer Melati Suryodarmo, yang akan menampilkan karya pertunjukan penting yang mengeksplorasi konsep tubuh dan dipengaruhi tradisi seni di Solo, kota asalnya. Juga studinya di Jerman, saat ia berguru pada seniman pertunjukan Marina Abramovic dan penari/koreografer Butoh Anzu Furukawa.

Pameran ini, ditampilkan bersamaan dengan “Manifesto”, berfokus pada sepilihan karya Melati, termasuk “Why Let the Chicken Run” (2001), yang dibuat sebagai penghormatan kepada salah satu panutannya dalam seni pertunjukan, Ana Mendieta, dan “EXERGIE -Butter Dance” (2012), salah satu karyanya yang paling populer.

Karya-karya yang ditampilkan berdurasi antara 15 menit hingga 12 jam, dan akan ditampilkan di hari-hari tertentu selama 13 minggu, menawarkan pemahaman yang menyeluruh akan kekaryaan Melati untuk pengunjung museum.

Sementara pada bulan Juli hingga Oktober, pengunjung bisa melihat pameran survei perupa kontemporer Agus Suwage berjudul “The Theatre of Me”. Agus dikenal akan pendekatan jenakanya terhadap isu sosial.

Pameran ini menampilkan potret diri sang perupa juga sepilihan lukisan, patung dan instalasi buatannya sejak 1980-an hingga kini.

MACAN juga membawa pameran tunggal terbesar Chiharu Shiota, seorang perupa Jepang yang tinggal di Berlin dan mengeksplorasi kekaryaannya selama 25 tahun.

“The Soul Trembles” yang akan dipamerkan selama November 2020 – Februari 2021 akan menampilkan instalasi yang kompleks dan indah berupa jaring-jaring merah dan hitam yang terbuat dari benang, yang terentang dan memenuhi ruang pamer.

Beberapa karyanya juga menggunakan barang sehari-hari, seperti sepatu dan piano yang terbakar, untuk mewujudkan konsep abstrak seperti kenangan, kekhawatiran dan mimpi. Pameran ini dihelat oleh Museum MACAN dan Mori Art Museum di Tokyo. [ant]

Continue Reading

Science

Pemerintah Dukung Pengembangan Varietas Buah dan Ternak Sapi Blora

Published

on

photo credit: Menristekdikti M Nasir/dok. Citra larasati
EDUPUBLIK.COM, Blora – Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus mendorong pengembangan produk atau hasil inovasi berbasis teknologi. Seperti pengembangan varietas buah di kebun buah PT. Mustika Sinar Semesta di Blora, Jawa Tengah.

Pasalnya Blora dikenal sebagai daerah gersang karena terletak di pegunungan kapur. Kendati demikian, perusahaan yang dikelola oleh Bambang Suharto ini berhasil mengembangkan varietas buah-buahan dengan kualitas unggul.

Salah satunya adalah buah alpukat dengan berat 1,7 – 2,5 kg. Alpukat ini memiliki kulit tipis dan daging yang tebal. Varietas buah lainnya yaitu kelengkeng, durian pelangi dari Papua, jambu, pepaya yang layak ekspor.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan varietas buah-buahan ini harus didorong pengembangannya dengan berkolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang telah berhasil mengembangkan bibit buah nusantara di Subang.

“Semoga nanti bisa dikembangkan bibit buah nusantara di Blora. Masyarakat Blora yang lain juga diharapkan bisa mengembangkan hal yang sama,” kata Nasir saat melakukan kunjungan ke kebun buah yang terletak di desa Tunjungan, Blora

Hal lain yang perlu dikembangkan menurut Nasir adalah saat pasca panen, bagaimana agar hasil panen buah tidak cepat membusuk. Ia mencontohkan penggunaan sistem ozonisasi yang kini sudah mulai digunakan untuk mengawetkan hasil pertanian. Selain itu, hasil panen diharapkan dapat berkontribusi memenuhi kebutuhan buah di dalam negeri, minimal di daerah Blora.

“Kita sudah mengembangkan bibit buah nusantara dengan IPB. Ini harus didorong terus supaya buah nusantara bisa disuplai dari dalam negeri. Syukur bisa diekspor,” ujar Nasir.

Pada kesempatan yang sama Nasir juga menyambangi pos inseminasi buatan di Tunjungan untuk melakukan inseminasi buatan terhadap sapi lokal.

Dia juga memberikan arahan kepada kelompok tani peternak sapi Desa Palon di Blora mengenai cara mengelola peternakan sapi dari hulu sampai hilir. Dia berharap peternak sapi dapat belajar dari PT. Karya Anugerah Rumpin (KAR), perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan dan penggemukan sapi.

“Kita akan membantu dalam hal pengembangan teknologi. Misalnya dalam pengelolaan limbah kotoran sapi dengan menggunakan teknologi sehingga menghasilkan nilai tambah,” pungkasnya.

Dalam kunjungan tersebut Nasir didampingi oleh Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe, CEO PT. KAR Karnadi Winaga, Direktur Inovasi Santoso Yudo Warsono, dan Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Retno Sumekar. [mrb]

Continue Reading

Art and Science

Diresmikan, Bandung Creative Hub – Wadah Anyar, Menampung Aneka Kreativitas

Published

on

EDUPUBLIK.COM, Bandung – Keberadaan gedung mencolok dan “aneh” ini cukup lama. Padahal kondisinya serba baru, warna-warni dari luar tampak jreng. Seiring bergulirnya waktu, gedung yang terletak di persimpangan Jalan Laswi dan Jalan Sukabumi Kota Bandung, menurut pengelolanya dibuat untuk menampung aneka kreativitas warga. Masa iya ?

photo credit: Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung, resmikan Gedung Bandung Creative Hub / dok. Akbar

Masih seturut waktu, rasa penasaran warga utamanya yang lalu- lalang di sekitarnya., semoga saja sirna. Hari itu (28/12/2017) secara resmi dibuka untuk publik, namanya Bandung Creative Hub (BCH).

Penjelasan dari pengelolanya, BCH dilengkapi aneka peralatan dan fasilitas demi mengakomodasi kebutuhan pelaku industri kreatif di Bandung. Semua peralatan ini disediakan oleh Pemerintah Kota Bandung.

“Bandung sudah terkenal dengan anak mudanya yang kreatif,” papar Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung.

“Untuk menjadikan kreativitas ini sebuah kekuatan, sebuah identitas, kita perlu sebuah tempat di mana semua potensi kreativitas itu dapat berkumpul,” lanjut Emil sapaan Ridwan Kamil.

Masih kata Emil lagi yang hari itu tampak sumringah di BCH:”Anak-anak muda tinggal bawa gagasan ke tempat ini, berkarya dengan memanfaatkan peralatan yang ada, bertemu sesama orang kreatif, juga memamerkan hingga menjual karyanya.”

Kenny Dewi Kaniasari, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, dalam kesempatan ini, turut memaparkan: “Bentuk pengelolaan BCH saat ini merupakan UPT, dengan fasilitas seperti ruang-ruang kelas, perpustakaan, cafe, toko desain, galeri, bioskop, dan workshop atau studio yang dilengkapi berbagai peralatan untuk berbagai sub-sektor, seperti fotografi, animasi, game, desain, musik, fashion, dan lain-lain.”

Gedung BCH ini, terdiri dari lima lantai ditambah dengan basement dan rooftop, yang memuat ruang-ruang dengan berbagai fungsi. Di lantai dasar terdapat cafe dan toko desain; di atasnya terdapat pelataran berjenjang yang dapat berfungsi sebagai tempat pertemuan dan kerja bersama, cafe, perpustakaan, dan ruang pengelola gedung. Di lantai-lantai berikutnya terdapat ruang teater dengan layar lebar dan panggung yang dapat digunakan untuk screening film, seni pertunjukan dan fashion show.

Masih kata Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, Gedung Bandung Creative Hub menjadi satu fasilitas yang disediakan pemerintah untuk menampung energi anak-anak muda di kota Bandung, “Karena anak muda Bandung penuh dengan ide dan inovasi,” ujarnya.

photo credit: Kenny Dewi Kaniasari, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung / dok. Akbar

“Diharapkan dari gedung ini, lahir inovasi-inovasi yang spektakuler, dan bisa membawa nama kota Bandung baik di tingkat nasional maupun internasional,” tegas Kenny Dewi Kaniasari, “Nantinya kita akan senang apabila lulusan-lulusan Bandung Creative Hub diakui dunia luar,” ungkapnya.

Ada Museum Desain Mini?

Dalam kesempatan berkeliling ke gedung BCH, ditemukan pula galeri seni, studio audio, studio produksi dan pasca produksi karya-karya digital seperti game dan animasi, ruang fotografi, ruang produksi desain dengan printer 3D, laser cutter. Sementara itu ada fasilitas ruang kelas untuk workshop, pelatihan, atau pertemuan. Masing-masing ruang ini, dilengkapi peralatan dan fasilitas sesuai dengan peruntukannya.

Fasilitas lainnya, ada sebuah ruangan yang difungsikan sebagai kantor bersama, dan tempat pertemuan lintas sub-sektor industri kreatif seperti Forum Desain Bandung. Disini sudah ada desainer profesional yang telah tergabung dalam asosiasi Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII), Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), dan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI).

Di gedung BCH terdapat pula sebuah ruang pertama kali ada di Indonesia, yaitu Bandung Design Archive (BDA). Ini semacam “museum desain mini” yang memuat berbagai arsip dan dokumentasi desain, terutama di Kota Bandung. Katanya, pengelolanya masih terus aktif mengarsipkan berbagai data desain, terutama dalam format digital.

Umum Boleh Pakai?

Dalam fungsinya, gedung BCH terbuka untuk komunitas, mahasiswa, dan masyarakat umum. Tris Avianti, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, memaparkan “Ruang dan fasilitas yang ada di BCH beberapa akan dikelola oleh asosiasi profesi terkait. Ada ruang-ruang yang merupakan area yang dapat diakses bebas oleh publik, seperti cafe, perpustakaan, dan galeri.”

Masih kata Tris yang memberi penekanan khusus:”Untuk ruang-ruang dengan peralatan khusus hanya dapat diakses oleh anggota atau yang berkepentingan.”

“Standar prosedur operasional, mekanisme pemakaian ruang dan alat, dan hal-hal mendetail lainnya, akan kami sampaikan segera setelah semuanya siap,” beber Tris yang sedang mempersiapkan tata-cara penggunaan demi kelancaran semua pihak yang beminat menggunakannya.

Bandung Kota Desain

Konektisitas dengan status Bandung yang telah ditahbiskan sebagai Kota Desain, ini menyangkut kedudukan sebagai anggota dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/ UCCN) sejak 11 Desember 2015, Tita Larasati, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung menjelaskan:“Keberadaan BCH merupakan salah satu wujud komitmen Kota Bandung terhadap jejaring UCCN. Pemerintah secara nyata mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui sinergi dengan pihak-pihak asosiasi profesional, komunitas, dan akademisi.”

Masih kata Tita, Kota Bandung memiliki sudut pandang tersendiri sebagai salah satu dari 31 Kota Desain UCCN yang berasal dari 25 negara. Dalam hal ini Fiki Satari, Ketua Tim Manajemen Dossier Bandung untuk UCCN, yang juga menjabat sebagai Ketua Indonesia Creative Cities Network (ICCN), menegaskan, “Arti Desain bagi Bandung dalam UCCN bukan hanya merujuk pada obyek dengan kualitas estetik tertentu, melainkan desain sebagai cara berpikir, dan alat untuk mendapatkan solusi nyata bagi berbagai permasalahan lokal.”

Semoga untuk warga Kota Bandung yang tadinya, merasa aneh dengan keberadaan gedung BCH, yang kerap berseloroh “teu puguh bentuk”. Kini, semakin jelas, ternyata ini untuk menampung segala ide bernas kekinian, khususnya dari kalangam muda. Boleh tuh dijajal ? [HS/SA]

Continue Reading

Terpopuler