Connect with us

Rilis

Tsunami Anyer, Seventeen Band Berduka  

personel seventeen band/via: instagram

BANTEN – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Seventeen Band. Keterlibatan Band tersebut dalam acara gathering perusahaan PLN di Tanjung Lesung mengalami bencana alam.

Pada 22 Desember sekitar pukul 21.30 WIB air pasang menyapu bersih panggung yang letaknya sangat berdekatan dengan laut.

Dari bencana tersebut kami harus kehilangan orang-orang tercinta. Pemain bass kami M Awal Purbani yang biasa disapa Bani juga Road Manajer Oki Wijaya menghembuskan nafas terakhirnya.

Kejadian berlangsung saat baru lagu kedua Seventeen menghibur penonton. Air pasang naik ke permukaan dan menyeret seluruh orang yang ada di lokasi.

Sayangnya saat arusnya surut anggota kami ada yang bisa menyelamatkan diri sementara sebagian tidak menemukan tempat berpegangan. Posisi panggung tepat membelakangi laut.

Saat ini korban bencana terpencar di klinik-klinik dalam radius 2-3KM dari lokasi kejadian. Sejak semalam tim SAR sudah diturunkan. Dan tim kami yang selamat belum bisa kemana-mana karena minimnya transportasi.

Berikut kronologi dari Ifan Seventeen,

“kehilangan Bani dan road manager kami Oki. Andi, ujang (kru) sama Herman belum diketemukan. Doakan juga semoga Dylan istri saya cepat diketemukan. Alhamdulillah yang lain selain itu sudah diketemukan walaupun dalam kondisi luka-luka. Kita ikhlas”

Kami selaku keluarga besar Seventeen Band meminta agar teman-teman tidak menyebarkan foto-foto dari lokasi. Juga untuk tidak menyebarkan isu hoax.

Kabar teraktual hanya berasal dari kami dan akan terus kami update. Mohon doanya agar anggota keluarga kami lainnya segera diketemukan.

Adapun keluarga yang belum kami temukan adalah:
– Herman Sikumbang (gitaris)
– Andi Windu Darmawan (drum)
– Ujang (kru)
– Dylan Sahara (istri Ifan – vokalis)

Demikian keluarga Seventeen Band menyampaikan. [novi]

Baca selanjutnya
Klik untuk komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rilis

Universitas Asia Pasifik Terbaik Berasal dari Australia

Published

on

EDUPUBLIK, Jakarta – Hasil Terbaru Ini Merupakan Pernyataan Kuat Yang Menegaskan Bahwa Australia Bukan Hanya Save Heaven Untuk Investasi Properti, Namun Juga Pusat Pendidikan Bagi Generasi Millennial Asia (06/02/2018).

Crown Group, pengembang yang berbasis di Sydney dan pemenang penghargaan, yang fokus pada pengembangan campuran dan hotel, Hari ini berbagi informasi terbaru tentang Daftar Universitas Asia Pasifik Terbaik untuk tahun 2017.

Times Higher Education telah meluncurkan Peringkat Universitas-Asia-Pasifik pertamanya untuk tahun 2017 yang menggambarkan kekuatan pertumbuhan di sektor pendidikan tinggi di kawasan ini.

Peringkat Universitas Asia-Pasifik tahun 2017 ini telah berhasil menganalisa universitas di 38 negara di kawasan Asia Timur, Asia Tenggara dan Oceania. Keseluruhan peringkat menampilkan lebih dari 200 universitas dari 13 negara yang berbeda.

Times Higher Education (THE), sebelumnya The Times Higher Education Supplement (THES), adalah majalah mingguan yang berbasis di London, yang secara khusus melaporkan berita dan isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan tinggi. Ini adalah publikasi terkemuka Inggris Raya di bidangnya

Times Higher Education dikenal menerbitkan daftar tahunan Times Higher Education World Universities Rankings yang pertama kali muncul pada bulan November 2004.

Jepang adalah negara yang paling banyak memiliki perwakilan dengan 69 universitas. Tiongkok berada di posisi kedua dengan 52 universitas. Negara lain yang memiliki kehadiran kuat di peringkat tersebut adalah Australia (35 universitas), Taiwan (26), Korea Selatan (25) dan Thailand (9)

Australia diwakili oleh 3 universitas terkemuka di daftar Top 10, yaitu University of Melbourne (3), Australian National University (8) dan University of Queensland (10).

Selanjutnya untuk daftar Top 20, Australia memiliki 8 perwakilan universitas, yaitu University of Sydney (11), Monash University (12), University of New South Wales (16), University of Western Australia (19) dan University of Adelaide (20), dimana University of Sydney dan University of New South Wales berada di Sydney.

Simon Marginson, direktur Pusat Pendidikan Tinggi Global di UCL Institute of Education, menunjukkan bahwa wilayah ini sudah lebih besar dari Eropa dan Inggris dalam hal jumlah siswa dan pengeluaran biaya penelitian.

“Dan suatu hari nanti akan sama pentingnya dengan AS dan Kanada,” prediksinya.

Cukup sederhana: “Wilayah Asia Pasifik adalah yang paling dinamis di dunia pendidikan tinggi,” kata Marginson.

“Sementara Peringkat Tahunan Universitas Versi THE dan Peringkat Universitas Asia memberi kita wawasan yang jelas untuk wilayah ini, kami percaya bahwa inilah saatnya untuk fokus lebih tajam pada bagian dunia yang unik dan menarik ini,” katanya.

Hasil ini adalah gambaran terbaru tentang kekuatan dan, yang lebih penting, peluang yang diberikan oleh salah satu kawasan dengan pendidikan tinggi dan penelitian terpenting di dunia.

Sementara itu, Ian Jacobs, presiden dan wakil rektor University of New South Wales yang berbasis di Sydney, mengatakan, “lempeng tektonik pendidikan tinggi global sedang bergeser.”

“Tampaknya kawasan Asia Timur dan Tenggara, dikombinasikan dengan kekuatan tradisional Australia dan Selandia Baru, telah siap menerima keuntungan utama ini,” tambahnya.

Seperti yang diutarakan dalam laman Indonesia.embassy.gov.au, Australia telah menjadi pilihan tujuan belajar utama bagi warga Indonesia pada sepuluh tahun terakhir, dengan perbandingan satu dari empat mahasiswa yang belajar di universitas luar negeri, memilih Australia.

Pendaftaran dari Indonesia ke seluruh lembaga pendidikan Australia – dari universitas hingga pusat pelatihan vokasional – mencapai lebih dari 20.000 hingga bulan Juni tahun 2017 karena semakin banyak keluarga Indonesia yang mengakui bahwa Australia itu lebih dekat, terjangkau dan aman, serta memiliki universitas-universitas kelas dunia.
Juga ikut mengomentari data terbaru pada institusi pendidikan, Crown Group Indonesia Head of Sales, Elis Sumarto, mengatakan bahwa data baru ini adalah pernyataan sangat kuat yang mengatakan bahwa Australia bukan hanya Save Heaven untuk investasi properti, namun juga merupakan pusat pendidikan di Wilayah Asia

“Australia telah menjadi tujuan institusi pendidikan utama selama beberapa dekade terakhir di kawasan ini, dan survei terbaru ini memperkuat posisi Australia sebagai salah satu Hub Pendidikan terbaik di Asia Pasifik”

“Dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan yang sama, Australia mungkin memiliki keuntungan yang tidak dimiliki negara lainnya, yaitu sebagai tujuan investasi property dan pusat pendidikan”

“Saat ini sudah terjadi pergeseran usia dari tipe pembeli produk-produk kami dimana semakin banyak jumlah tipe investor berusia di bawah 40 tahun, dengan jumlah presentase lebih dari 40% dan masih terus bertambah. Mereka masih aktif untuk melanjutkan pendidikannya atau sudah berfikir untuk melakukan investasi jangka panjang apabila anak-anak mereka nanti melanjutkan sekolah di luar negeri”

“Daftar baru ini juga menunjukkan bahwa Melbourne dan Sydney tidak lagi mendominasi daftar universitas terbaik di Australia. Ada kota lain di negara ini yang memiliki institusi pendidikan yang sangat bagus, dan mereka mengejar dengan cepat”

“Dan ini menjadi sangat penting bagi kami sebagai pengembang karena memberikan kami banyak opsi dalam meluaskan dan mengembangkan proyek-proyek kami di masa depan”

“Inilah sebabnya mengapa kami selalu mengembangkan proyek hunian di dekat institusi-intitusi pendidikan tersebut, mengetahui kebutuhan masyarakat dan para pembeli kami untuk memiliki akses mudah terhadap universitas-universitas ini” Elis mengakhiri.

Pada tahun 2018, Crown Group akan meluncurkan proyek pengembangan mixed-use terbarunya di Eastlakes, Sydney dan proyek high rise pertamanya di Melbourne.[rls/SA]

Continue Reading

Rilis

Peringati Malari, Aktivis dan Politisi Kumpul di Yogyakarta

Published

on

grafik gambar: poster acara peringatan malari 44 tahun

EDUPUBLIK.COM, Jakarta – Semangat meneguhkan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial masih terus bergelora di jejaring kaum prodemokrasi Indonesia. Pasca reformasi 1998, berbagai problematika kebangsaan seperti liberalisme, disintegrasi sosial, hingga masalah pemenuhan hak sosial ekonomi masyarakat, terus berkelindan dan belum mampu diakomodir oleh negara sebagai perwujudan kedaulatan rakyat.

Berbagai gerakan perlawanan menuntut hak rakyat terus berlangsung dalam berbagai bentuk sejak era kemerdekaan hingga kini. Salah satu yang heroik adalah Peristiwa Malari, berupa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974.

Malari yang dimotori aktivis Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar, dengan gagah berani melakukan kritik terbuka atas kesalahan strategi pembangunan Orde Baru dan menuntut Presiden Soeharto untuk lebih mementingkan rakyat, bukan malah menguntungkan asing dalam pembangunan nasional. Walau akhirnya, barisan mahasiswa dan pemuda mengalami represi hebat dari kekuasaan otoriter Orba.

Tak terasa, sudah lebih 4 dekade Peristiwa Malari, tetapi masih tertanam kuat di memori publik, khususnya kalangan aktivis dan politisi. Dalam beberapa hari ke depan, rencananya ratusan aktivis dan politisi lintas generasi, sektoral dan ideologi akan berkumpul di Yogyakarta guna memperingati Malari.

“Kami mengundang Bapak, Ibu, Saudara, Saudari sekalian termasuk para tokoh Yogyakarta, untuk berkenan hadir dalam Peringatan 44 Tahun Peristiwa Malari yang akan digelar hari Senin mendatang. Selain temu kangen dan diskusi publik, kita juga akan mendengarkan orasi kebangsaan dari tokoh Malari Hariman Siregar,” ujar Ketua Pelaksana Peringatan Malari, Isti Nugroho kepada media.

Peringati Malari, Aktivis dan Politisi Kumpul di Yogyakarta

Peringati Malari, Aktivis dan Politisi Kumpul di Yogyakarta

Isti mengatakan, Peringatan 44 Tahun Malari itu sekaligus juga merayakan 18 Tahun Indonesian Democracy Monitor (InDEMO), sebuah lembaga kajian yang didirikan Hariman Siregar dkk. Acara terbuka untuk umum pada hari Senin (15/1/2018) pukul 09-13 WIB di University Club Universitas Gajah Mada (UGM), Boulevard, Jalan Pancasila Nomor 2, Bulaksumur, Yogyakarta.

Bertema “Mengembalikan Reformasi yang Kita Mau”, Peringatan Malari akan diisi dengan analisa kekinian dan orasi kebangsaan Hariman Siregar, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi publik menghadirkan narasumber handal, antara lain Ari Sujito (akademisi UGM), Max Lane (Indonesianis dari Australia), Daniel Dhakidae (jurnalis senior), Bhima Yudhistira (ekonom Indef), Cak Nun (budayawan), juga pandangan berbagai tokoh senior lainnya. [rt]

Continue Reading

Rilis

Tahun Baru 2018: Perayaan Hari Migran Internasional dan Peresmian JBMI Macau

Published

on

photo credit: JBMI Macau/dok. rw via: facebook

EDUPUBLIK.COM, Macau – Bertepatan dengan perayaan Tahun Baru 2018, sejumlah Organisasi BMI menggelar perayaan Hari Migran Internasional sekaligus meresmikan Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI), di Nam Van, Macau, (1/1/2018).

Dengan tema Buruh Migran perkuat persatuan dan kesatuan untuk menegakkan keadilan dan hak-hak BMI Macau serta memperkuat tali persaudaraan.

Dalam acara tersebut juga menghadirkan Erwiana Sulistiyaningsih, korban kekerasan yang berhasil memenangkan kasusnya di Hong Kong.

photo credit: JBMI Macau

Roihatul Wardah yang terpilih sebagai koordinator JBMI Macau menjelaskan bahwa acara ini diselenggarakan untuk mengangkat persoalan buruh migran di Macau dan sekaligus mempromosikan kreatifitas BMI melalui pentas seni.

“Semoga ke depan suara dan tuntutan buruh migran di Macau lebih didengarkan oleh pemerintah Indonesia dan Macau melalui jaringan yang kita bangun ini,” ujar Roi.

Roi, mengatakan, persatuan buruh migran sangat diperlukan untuk melindungi hak-hak dan memperjuangkan keadilan buruh migran di tengah kondisi kerja yang berat dan aturan-aturan yang terus memangkas hak BMI dari pemerintah Macau maupun Indonesia.

“Persoalan buruh migran di Macau saat ini yang perlu segera di tindak lanjuti oleh pemerintah adalah praktek perekrutan ilegal dari Indonesia,” kata Roi.

photo credit: JBMI Macau

Dia menuturkan, banyak korban perekrutan ini yang terlantar dan terpaksa menjadi Overstay di Macau. Tidak adanya mekanisme pengaduan bagi korban yang diciptakan oleh pemerintah Indonesia dan Macau menyebabkan korban terus bertambah dan tidak mendapatkan keadilan.

“Pelaku akan terus melakukan praktek-praktek ini karena tahu betul hukum di Indonesia yang masih lemah dalam menindak tegas pelaku dan tidak membuat mereka jera. Apalagi kemiskinan di Indonesia semakin memburuk dan sulitnya lapangan kerja layak di Indonesia,” tuturnya.

Untuk diketehaui, dalam acara tersebut Erwiana juga hadir dan memberikan pidato tentang pengalamannya dalam menuntut keadilan.

Dalam pidatonya, kata Roi, Erwiana menyampaikan bahwa BMI harus bersatu untuk memperkuat dirinya dengan cara berorganisasi karena menuntut keadilan tidak bisa dilakukan sendiri.

photo credit: JBMI Macau

Sementara itu, perayaan ini juga dirayakan dengan pentas seni dari berbagai organisasi dan komunitas BMI di Macau. JBMI Macau saat ini beranggotakan 6 organisasi BMI yaitu IMWU Macau, MATIM, Irsyad, PACINUM, Halimah dan TEQ. [rw]

Continue Reading

Terpopuler